PAPER
PERENCANAAN DAN EVALUASI PENYULUHAN
PERTANIAN
(PENDEKATAN ILMIAH DAN EVALUASI PENYULUHAN PERTANIAN)

OLEH :
HABSETO AJI YOGA PRATAMA
H0812076
AGRIBISNIS – 4B
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evaluasi
merupakan suatu kegiatan yang penting, namun sering dikesampingkan karena
dianggap mencari kesalahan, kegagalan dan kelemahan dari suatu kegiatan atau
program. Sebenarnya evaluasi harus dilihat dari segi manfaatnya sebagai upaya
memperbaiki dan penyempurnaan program/kegiatan sehingga lebih efektif, efisien
dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Suatu
keharusan bagi seorang seorang penyuluh ataupun calon penyuluh untuk mengetahui
konsep dasar evaluasi terutama terkait pengertian dasar tentang evaluasi,
tujuan evaluasi dan manfaat evaluasi, teknik evaluasi, model dan pendekatan
evaluasi. Tanpa mengetahui konsep dasar evaluasi seorang penyuluh akan
kesulitan dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi yang pada dasarnya
dilaksanakan secara sistematis dan mengikuti kaidah berpikir ilmiah.
B.
Pengertian
Umum
Evaluasi
merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui
bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta
hasilnya. Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia, akan
tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 2000 : 220). Sedangkan
menurut pengertian istilah “evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk
mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya
dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan” (Yunanda : 2009).
Pemahaman
mengenai pengertian evaluasi dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian
evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Menurut Stufflebeam dalam
Lababa (2008), evaluasi adalah “the process of delineating, obtaining, and
providing useful information for judging decision alternatives,"
Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan
informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan. Masih dalam
Lababa (2008), Worthen dan Sanders mendefenisikan “evaluasi sebagai usaha
mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat
berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur
tertentu”.
Tague-Sutclife
(1996 : 1-3), mengartikan evaluasi sebagai "a systematic process of
determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils".
Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental,
melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana,
sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang jelas.
Dari
definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah
penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, selanjutnya
menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadap implementasi
dan efektifitas suatu program.
Evaluasi
meliputi mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan
keputusan. Hubungan antara pengukuran dan penilaian saling berkaitan. Mengukur
pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran atau
kriteria tertentu (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran
bersifat kuantitatif. Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai itu
mengandung arti, mengambil keputusan terhadap sesuatu yang berdasarkan pada
ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya. Dan
penilaian bersifat kualitatif. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh
Arikunto (2009 : 3) bahwa mengukur adalah ,membandingkan sesuatu dengan satu
ukuran (bersifat kuantitatif), menilai adalah mengambil suatu keputusan
terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (bersifat kualitatif), dan evaluasi
meliputi kedua langkah tersebut di atas.
Pendapat
lain mengenai evaluasi disampaikan oleh Arikunto dan Cepi (2008 : 2), bahwa:
Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya
sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan
alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Fungsi utama evaluasi
dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak
decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan
evaluasi yang telah dilakukan. Sedangkan Uzer (2003 : 120), mengatakan bahwa:
Evaluasi adalah suatu proses yang ditempuh seseorang untuk memperoleh informasi
yang berguna untuk menentukan mana dari dua hal atau lebih yang merupakan
alternatif yang diinginkan, karena penentuan atau keputusan semacam ini tidak
diambil secara acak, maka alternatif-alternatif itu harus diberi nilai relatif,
karenanya pemberian nilai itu harus memerlukan pertimbangan yang rasional
berdasarkan informasi untuk proses pengambilan keputusan.
Menurut
Djaali dan Pudji (2008 : 1), evaluasi dapat juga diartikan sebagai “proses
menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang
selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi”.
Sedangkan Ahmad(2007 : 133), mengatakan bahwa “evaluasi diartikan sebagai
proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan,
keputusan, unjuk kerja, proses, orang, obyek,dll.) berdasarkan kriteria
tertentu melalui penilaian”.
Untuk
menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan dengan kriteria, evaluator
dapat langsung membandingkan dengan kriteria namun dapat pula melakukan
pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian baru membandingkannya
dengan kriteria. Dengan demikian evaluasi tidak selalu melalui proses mengukur
baru melakukan proses menilai tetapi dapat pula evaluasi langsung melalui
penilaian saja. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Crawford (2000 :
13), mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah
suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan
tujuan atau kriteria yang telah ditentukan.
Dari
pengertian pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa ahli di
atas, dapat ditarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan
sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana
keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat
dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Karenanya, dalam
keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan
efisiensi. “Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inputnya
sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output
lewat suatu proses” (Sudharsono dalam Lababa, 2008).
C. Tujuan dan Fungsi
Setiap
kegiatan yang dilaksanakan pasti mempunyai tujuan, demikian juga dengan
evaluasi. Menurut Arikunto (2002 : 13), ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara
keseluruhan, sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing
komponen. Menurut Crawford (2000 ; 30), tujuan dan atau fungsi evaluasi adalah
:
1. Untuk mengetahui apakah
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai dalam kegiatan.
2. Untuk memberikan objektivitas
pengamatan terhadap prilaku hasil.
3. Untuk mengetahui kemampuan dan
menentukan kelayakan.
4. untuk memberikan umpan balik bagi
kegiatan yang dilakukan.
Pada
dasarnya tujuan akhir evaluasi adalah untuk memberikan bahan-bahan pertimbangan
untuk menentukan/membuat kebijakan tertentu, yang diawali dengan suatu proses
pengumpulan data yang sistematis.
II.
PEMBAHASAN/ISI
A. Teknik Evaluasi
Untuk
membuat sebuah keputusan yang merupakan tujuan akhir dari proses evaluasi
diperlukan data yang akurat. Untuk memperoleh data yang akurat diperlukan
teknik dan instrumen yang valid dan reliabel. Secara garis besar evaluasi dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik tes dan teknik nontes (alternative
test).Hisyam Zaini, dkk. dalam Qomari (2008), mengelompokkan tes sebagai
berikut :
1. Menurut bentuknya; secara umum terdapat
dua bentuk tes, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif adalah
bentuk tes yang diskor secara objektif. Disebut objektif karena kebenaran
jawaban tes tidak berdasarkan pada penilaian (judgement) dari korektor tes. Tes
bentuk ini menyediakan beberapa option untuk dipilih peserta tes, yang setiap
butir hanya memiliki satu jawaban benar. Tes subjektif adalah tes yang diskor
dengan memasukkan penilaian (judgement) dari korektor tes. Jenis tes ini antara
lain: tes esai, lisan.
2. Menurut ragamnya; tes esai dapat
diklasifikasi menjadi tes esai terbatas (restricted essay), dan tes esai bebas
(extended essay). Butir tes objektif menurut ragamnya dapat dibagi menjadi
tiga, yaitu: tes benar-salah (true-false), tes menjodohkan (matching), dan tes
pilihan ganda (multiple choice). Teknik nontes dalam evaluasi banyak macamnya,
beberapa di antaranya adalah: angket (questionaire), wawancara (interview),
pengamatan (observation), skala bertingkat (rating scale), sosiometri, paper,
portofolio, kehadiran (presence), penyajian (presentation), partisipasi
(participation), riwayat hidup, dan sebagainya.
B. Standar Evaluasi
Standar
yang dipakai untuk mengevaluasi suatu kegiatan tertentu dapat dilihat dari tiga
aspek utama (Umar, 2002), yaitu;
1. Feasibility (layak) : Utility (manfaat) : Hasil
evaluasi hendaknya bermanfaat bagi manajemen untuk pengambilan keputusan atas
program yang sedang berjalan.
2. Accuracy (akurat) : Informasi atas hasil
evaluasi hendaklah memiliki tingkat ketepatan tinggi. .
3. Feasibility (layak) : Hendaknya proses evaluasi
yang dirancang dapat dilaksanakan secara layak.
C. Model Evaluasi
Ada
beberapa model yang dapat dicapai dalam melakukan evaluasi (Umar, 2002 :),
yaitu :
1. Sistem assessment : Yaitu evaluasi yang memberikan
informasi tentang keadaan atau posisi suatu sistem. Evaluasi dengan menggunakan
model ini dapat menghasilkan informasi mengenai posisi terakhir dari sauatu
elemen program yang tengah diselesaikan.
2. Program planning : Yaitu evalusi yang membantu
pemilihan aktivitas-aktivitas dalam program tertentu yang mungkin akan berhasil
memenuhi kebutuhannya.
3. Program implementation : Yaitu evaluasi yang menyiapkan
informasi apakah program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang
tepat seperti yang telah direncanakan.
4. Program Improvement : Yaitu evaluasi orang memberikan
informasi tentang bagaimana program berfungsi, bagaimana program bekerja,
bagaimana mengantisispasi masalah-masalah yang mungkin dapat mengganggu
pelaksanaan kegiatan.
5. Program Certification : Yaitu evaluasi yang memberikan
informasi mengenai nilai atau manfaat program.
D. Pendekatan Evaluasi
Evaluasi
memiliki tujuan-tujuan alternatif dan tujuan-tujuan tersebut mempengaruhi
evaluasi suatu program atau kegiatan. Mengenal pandangan-pandangan yang
beraneka ragam dan mengetahui bahwa tidak semua evaluator setuju pada
pendekatan tersebut dalam melakukan evaluasi suatu program/kegiatan adalah
penting. Ada beberapa pendekatan umum dalam melakukan evaluasi yaitu :
1. Objective-Oriented Approach
Fokus pada
pendekatan ini hanya tertuju kepada tujuan program/proyek dan seberapa jauh
tujuan itu tercapai. Pendekatan ini membutuhkan kontak intensif dengan
pelaksana program/proyek yang bersangkutan.
2. Three-Dimensional Cube Atau
Hammond’s Evaluation Approach
Pendekatan
Hammond melihat dari tiga dimensi yaitu instruction (karateristik pelaksanaan,
isi, topik, metode, fasilitas, dan organisasi program/proyek), institution
(karakteristik individual peserta, instruktur, administrasi
sekolah/kampus/organisasi), dan behavioral objective (tujuan program itu
sendiri, sesuai dengan taksonomi Bloom, meliputi tujuan kognitif, afektif dan
psikomotor).
3. Management-Oriented Approach
Fokus dari
pendekatan ini adalah sistem (dengan model CIPP: context-input-proses-product).
Karena pendekatan ini melihat program/proyek sebagai suatu sistem sehingga jika
tujuan program tidak tercapai, bisa dilihat di proses bagian mana yang perlu
ditingkatkan.
4. Goal-Free Evaluation
Berbeda
dengan tiga pendekatan di atas, pendekatan ini tidak berfokus kepada tujuan
atau pelaksanaan program/proyek, melainkan berfokus pada efek sampingnya, bukan
kepada apakah tujuan yang diinginkan dari pelaksana program/proyek terlaksana
atau tidak. Evaluasi ini biasanya dilaksanakan oleh evaluator eksternal.
5. Consumer-Oriented Approach
Dalam pendekatan
ini yang dinilai adalah kegunaan materi seperti software, buku, silabus. Mirip
dengan pendekatan kepuasan konsumen di ilmu Pemasaran, pendekatan ini menilai
apakah materi yang digunakan sesuai dengan penggunanya, atau apakah diperlukan
dan penting untuk program/proyek yang dituju. Selain itu, juga dievaluasi
apakah materi yang dievaluasi di-follow-up dan cost effective.
6. Expertise-Oriented Approach
Dalam
pendekatan ini, evaluasi dilaksanakan secara formal atau informal, dalam artian
jadwal dispesifikasikan atau tidak dispesifikasikan, standar penilaian
dipublikasikan atau tidak dipublikasikan. Proses evaluasi bisa dilakukan oleh
individu atau kelompok. Pendekatan ini merupakan pendekatan tertua di mana
evaluator secara subyektif menilai kegunaan suatu program/proyek, karena itu
disebut subjective professional judgement.
7. Adversary-Oriented Approach
Dalam
pendekatan ini, ada dua pihak evaluator yang masing-masing menunjukkan sisi
baik dan buruk, disamping ada juri yang menentukan argumen evaluator mana yang
diterima. Untuk melakukan pendekatan ini, evaluator harus tidak memihak,
meminimalkan bias individu dan mempertahankan pandangan yang seimbang.
8. Naturalistic & Participatory
Approach
Pelaksana
evaluasi dengan pendekatan ini bisa para stakeholder. Hasil dari evaluasi ini
beragam, sangat deskriptif dan induktif. Evaluasi ini menggunakan data beragam
dari berbagai sumber dan tidak ada standar rencana evaluasi. Kekurangan dari
pendekatan evaluasi ini adalah hasilnya tergantung siapa yang menilai (Salehudin,
2009 : 5-7).
III.
KESIMPULAN
1.
Evaluasi
bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa
mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu
hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan
keinginannya semula.
2.
Meskipun
terdapat beberapa perbedaan antara model-model evaluasi, tetapi secara umum
model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi
obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan.
3.
Berbagai
pendekatan untuk mengevaluasi suatu program atau proyek diterapkan untuk
mendapatkan keefektifan dan keefisienan program atau proyek tersebut baik
secara internal yaitu pihak pengembang atau pengelola, maupun secara eksternal
yaitu pengguna. Bentuk-bentuk pendekatan evaluasi yang telah ada harus terus
dikembangkan untuk meningkatkan kepuasan pengguna sebagai tujuan utama suatu
program dijalankan.
DAFTAR PUSTAKA
Derisent_Wae, 2013.
http://media-penyuluhan-pertanian.blogspot.com/2013/12/konsep-evaluasi.html. Diakses
pada tanggal 24 April 2014.
Derisent_Wae,2013.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19622/4/Chapter%20II.pdf.
Diakses pada tanggal 24 April 2014.
No comments:
Post a Comment