ANALISIS
PENGARUH QUALITY WORK LIFE (KUALITAS
KEHIDUPAN KERJA) DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Studi
pada PD BPR BKK Kalikotes)
Disusun
Oleh :
HABSETOAJI YOGA PRATAMA
H0812076
FAKULTAS PERTANIAN
PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS
MARET
SURAKARTA
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ada
beberapa pendapat mengenai pengertian bank, menurut Dendawijaya (2000:25) yang
dimaksud bank adalah “Suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai
macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan
terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga,
membiayai perusahaan-perusahaan dan lain-lain.” menurut IAI dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2002:31) : “Bank adalah suatu badan usaha yang tugas
utamanya sebagai lembaga perantara keuangan, yang menyalurkan dana dari pihak yang berkelebihan
dana kepada pihak yang membutuhkan dana atau kekurangan dana pada waktu yang
ditentukan.” Sedangkan menurut pasal 1 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan, pengertian perbankan adalah : “Badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk
kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.
Sumber daya manusia merupakan factor yang sangat
berharga, maka perusahaan bertanggungjawab untuk memelihara kualitas
kehidupan kerja dan membina tenaga kerja agar bersedia memberikan kontribusinya
secara optimal untuk mencapai tujuan perusahaan (Pruijt, 2003). Ada empat
dimensi di dalam kualitas kehidupan kerja yang diharapkan dapat meningkatkan
kualitas sumber daya manusia yaitu partisipasi dalam pemecahan masalah, sistem
imbalan yang inovatif, perbaikan lingkungan kerja dan restrukturisasi
kerja.
Pengelolaan
terhadap sumber daya manusia harus dilaksanakan secara efektif dan efisien agar
tujuan organisasi dapat direalisasikan. Dalam organisasi tentunya banyak faktor
yang mempengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
sedangkan jalannya organisasi atau perusahaan tentunya diwarnai oleh perilaku
individu yang merasa berkepentingan dalam kelompoknya masing-masing. Perilaku
individu yang berada dalam organisasi atau perusahaan tentunya sangat
mempengaruhi organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini
akibat adanya kemampuan individu yang berbeda-beda dalam menghadapi tugas atau
aktivitasnya.
Setiap
manusia atau seseorang selalu mempertimbangkan perilakunya terhadap segala apa
yang diinginkan agar dapat tercapai tanpa menimbulkan konflik baik secara
individu maupun kelompok, sehingga kinerja dapat tercapai sesuai dengan yang
diinginkan. Kinerja karyawan merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja
dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan
tertentu. Kinerja karyawan merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan
motivasi. Menurut Simamora (1997) penetapan tujuan kinerja adalah menyusun
sasaran yang berguna tidak hanya bagi evaluasi kinerja pada akhir periode tapi
juga untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut sedangkan Menurut
Elmuti dan Kathawala (1997) ada 5 (lima) kriteria yang digunakan untuk mengukur
sejauh mana kinerja karyawan secara individu, yaitu dengan melihat kualitas
kerjanya, kuantitas kerjanya, pengetahuan dan ketrampilan, ketepatan waktunya
dan komunikasi.
Kualitas kehidupan kerja atau Quality of
Work Life (QWL) merupakan salah satu
bentuk filsafat yang diterapkan
manajemen dalam mengelola organisasi pada umumnya
dan sumberdaya manusia pada
khususnya. Sebagai filsafat, kualitas kehidupan kerja merupakan cara
pandang manajemen tentang manusia, pekerja dan organisasi. Unsur‐unsur
pokok dalam filsafat tersebut ialah: kepedulian manajemen tentang dampak
pekerjaan pada manusia, efektivitas organisasi serta pentingnya para karyawan
dalam pemecahan keputusan terutama yang menyangkut pekerjaan, karier,
penghasilan dan nasib mereka dalam pekerjaan.
Kualitas
kehidupan kerja adalah persepsi karyawan bahwa mereka ingin merasa aman, secara
relatif merasa puas dan mendapat kesempatan mampu tumbuh dan berkembang
selayaknya manusia (Wayne, 1992 dalam Noor Arifin 2012). Kualitas kehidupan
kerja merupakan masalah utama yang patut mendapat perhatian organisasi Hal ini
merujuk pada pemikiran bahwa kualitas kehidupan kerja dipandang mampu untuk
meningkatkan peran serta dan sumbangan para anggota atau karyawan terhadap
organisasi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja
mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan dilakukan
oleh Ari Husnawati (2006) dan Noor Arifin (2012).
Kualitas
kehidupan kerja sendiri mempunyai dampak pada komitmen organisasi. Adanya
kualitas kehidupan kerja pada karyawan juga menumbuhkan komitmen pada karyawan
untuk tetap tinggal dalam organisasi. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya
hubungan positif antara praktek kualitas kehidupan kerja dengan komitmen
organisasi pernah dilakukan oleh Ari Husnawati (2006) dan juga penelitian yang
dilakukan oleh Wyatt dan Wah (2001) terhadap pekerja di Singapura menyebutkan
bahwa pekerja ingin diperlakukan sebgai individu yang dihargai di tempat kerja.
Kinerja yang bagus akan dihasilkan pekerja jika merea dihargai dan diperlakukan
seperti layaknya manusia.
Hal
penting lain yang berhubungan dengan kinerja karyawan adalah komitmen karyawan
pada organisasi. Komitmen organisasional juga dapat dipandang sebagai suatu
keadaan yang mana seorang karyawan atau individu memihak pada suatu organisasi
tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam
organisasi tersebut. Dengan demikian, menurut prapti,dkk (2004) komitmen
organisasional yang tinggi menunjukkan tingkat keberpihakan seorang karyawan
terhadap organisasi yang mempekerjakannya. Hingga saat ini berbagai riset telah
membuktikan bahwa komitmen terhadap pekerjaan berpengaruh secara signifikan
terhadap work outcomes seperti keinginan untuk pindah kerja, kinerja,
kepuasan kerja dan tingkat kemangkiran (Cohen, 1999).
Komitmen
organisasi merupakan derajat seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian
dan organisasi dan berkeinginan melanjutkan partisipasi aktif di dalamnya.
Komitmen organisasional yang dimiliki karyawan dalam bekerja di perusahaan atau
organisasi dalam konteks ini tidak lagi dipandang semata-mata mencari nafkah
belaka, tetapi lebih mendalam. Dengan adanya konsep kualitas kehidupan kerja
dimana kebijakan pihak manajemen memperdayakan organisasi melalui lingkungan
kerja yang manusia melalui empat dimensi kualitas kehidupan kerja tersebut maka
karyawan akan lebih merasa dihargai sehingga komitmen organisasional untuk
bekerja juga lebih tinggi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komitmen
organisasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
perusahaan yang dilakukan oleh Ari Husnawati,dkk (2006).
Berdasarkan
hasil Penelitian di atas peneliti akan mengarahkan pada kajian mengenai
pengaruh kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi terhadap kinerja
karyawan pada PD BPR BKK Kalikotes. PD BPR BKK Kalikotes merupakan badan usaha
milik Daerah Kabupaten Kalikotes yang tentunya begerak di bidang perbankan
dimana pengelolaan karyawan yang benar kaitannya sangat penting dengan
persaingan antar bank-bank lainnya, sehingga karyawan dituntut untuk produktif
demi kemajuan PD BPR BKK Kalikotes serta supaya tetap bertahan terus menerus
mencapai target yang sudah ditentukan. Manajemen kinerja yang diterapkan oleh
PD BPR BKK Kalikotes ternyata belum berhasil meningkatkan antusiasme karyawan
untuk memberikan hasil karya yang lebih baik untuk organisasi yang dipengaruhi
oleh kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi. Hal ini dapat dilihat
dari fenomena yang muncul mengenai permasalahan kualitas kehidupan kerja
karyawan yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara prasurvey pada
direktur utama dan beberapa karyawan PD BPR BKK Kalikotes antara lain kurangnya
keterampilan yang dimiliki oleh para karyawan dalam masalah perbankan sehingga
tugas dan tanggung jawab pekerjaan kurang maksimal diselesaikan. Kompensasi
yang diterima oleh para karyawan tidak sebanding dengan beban kerja yang mereka
kerjakan. Masih terjadi tebang pilih dalam menentukan karyawan yang mengikuti
diklat maupun pelatihan dan promosi serta masih kurangnya dukungan manajemen
dalam penerapan hasil pendidikan maupun pelatihan dalam kehidupan organisasi.
Secara tidak langsung hal ini memberikan tampak yang kurang harmonis dalam
kehidupan organisasi. Selain itu rendahnya antusiasme karyawan juga dapat
dilihat dari pelanggaran yang sering terjadi. Pelanggaran-pelanggaran tersebut
merupakan kesalahan karyawan yang seringkali terjadi dan hal tersebut merupakan
tindakan yang menyalahi aturan SOP (Standart Operating Procedure).
Setiap perusahaan memiliki SOP dalam menjalankan kegiatannya agar berjalan
dengan baik dan teratur. Pelanggaran yang sering terjadi contohnya yakni
terlambat masuk kerja, kesalahan penulisan slip setoran (salah penulisan dalam
tanggal atau jumlah setoran dll), bolos kerja dll. Adapun data pelanggaran
kerja dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 1.1
Data Pelanggaran
Kerja Karyawan PD BPR BKK Kalikotes
Tahun 2010 –
2012
|
Tahun
(a)
|
Pelanggaran
(b)
|
Presentasi
(b/25
x 100%)
|
Kenaikan
|
|
2010
|
1
orang
|
0,04%
|
0%
|
|
2011
|
1
orang
|
0,04%
|
0%
|
|
2012
|
0
orang
|
0%
|
-0,04%
|
|
|
|
|
|
Sumber : PD BPR BKK Kalikotes, 2013
Berdasarkan
tabel 1.1 di atas menunjukkan adanya peningkatan pelanggaran kerja. Peningkatan
pelanggaran kerja tersebut dipengaruhi oleh rendahnya komitmennya karyawan
terhadap organisasi yang mengindikasikan kinerja menjadi menurun dengan
ditunjukkan pencapaian target kredit dari nasabah selama lima tahun terakhir
2008 – 2012 yang ditetapkan PD BPR BKK Kalikotes tidak tercapai bahkan
rata-rata mengalami penurunan.
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini akan mengambil judul “ Analisis
Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap
Kinerja Karyawan (Studi Pada PD BPR BKK
Kalikotes)”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
permasalah pada PD BPR BKK Kalikotes yang mengalami penurunan kinerja yang
ditunjukkan oleh fenomena yang muncul yaitu pencapain target kredit dari
nasabah selama lima tahun terakhir 2008 – 2012 yang ditetapkan PD BPR BKK Kalikotes
tidak tercapai bahkan rata-rata mengalami penurunan. Penurunan target
pencapaian kredit nasabah dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
faktor kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi karyawan, maka timbul
pertanyaan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.
Bagaimana pengaruh kualitas kehidupan
kerja terhadap kinerja karyawan ?
2.
Bagaimana pengaruh komitmen organisasi
terhadap kinerja karyawan ?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini adalah :
1. Untuk
menganalisis pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap kinerja karyawan.
2. Untuk
menganalisis pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan.

No comments:
Post a Comment