ANALISIS PENGENDALIAN BAHAN BAKU
PADA
PERUSAHAAN HANDUK LUMINTU
DI KLATEN

Disusun Oleh :
HABSETOAJI YOGA PRATAMA
H0812076
AGRIBISNIS 5 C
FAKULTAS PERTANIAN PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................
iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
A. Latar
Belakang......................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah.................................................................................... 2
C. Tujuan....................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 4
A.
Persediaan.............................................................................................. 4
1. Pengertian
Persediaan....................................................................... 4
2. Fungsi
Persediaan............................................................................. 4
3. Jenis
Persediaan................................................................................ 5
4. Jenis-jenis
Biaya Persediaan.............................................................. 7
B.
Pengendaliaan
Persediaan.................................................................... 9
1. Pengertian
Pengendaliaan Persediaan............................................... 9
2. Tujuan
Pengendaliaan Persediaan..................................................... 9
C.
Persediaan
Penyelamat (safety lock).................................................... 10
D.
Waktu
Tunggu (lead time).................................................................... 11
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 13
A.
Kebijakan perusahaan......................................................................... 13
B.
Biaya
Pemesanan.................................................................................. 14
C.
Biaya
Penyimpanan.............................................................................. 14
D.
Total
Biaya Persediaan......................................................................... 15
BAB IV PENUTUP.......................................................................................... 16
A.
KESIMPULAN..................................................................................... 16
B.
SARAN.................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Data Kebutuhan bahan baku tahun 2009.............................................. 13
Tabel
2. Data Pemesanan bahan baku tahun 2009.............................................. 14
Tabel 3. Data Penyimpanan bahan baku tahun 2009.......................................... 15
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Proses Transformasi Produksi........................................................... 6
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia
usaha di Indonesia mulai menampakkan kemajuan yang cukup pesat. Hal ini
dibuktikan dengan munculnya berbagai macam usaha yang tersebar diseluruh
penjuru Indonesia, mulai dari usaha kecil yang dimiliki perseorangan sampai perusahaan
yang telah mapan dengan memiliki anak cabang yang cukup banyak. Dengan demikian
persaingan diantara perusahaan tidak dapat dihindarkan, untuk itu setiap
perusahaan harus pandai memutar otak agar dapat memenangkan persaingan dan
mencapai tujuan perusahaan yang sebenarnya yaitu mencapai keuntungan yang maksimal.
Selanjutnya perusahaan harus mampu meningkatkan kinerja, khususnya dalam proses
produksi sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi harapan
konsumen.
Proses produksi yang baik
dibutuhkan keseimbangan antara factor produksi, yang meliputi : bahan baku,
modal, mesin, metode, dan sumber daya manusia. Khusus bahan baku seringkali
menjadi factor penting, dikarenakan persediaan bahan baku merupakan unsur utama
dalam kelancaran proses produksi. Untuk itu setiap perusahaan harus memiliki
perencanaan kebutuhan bahan baku yang baik dan harus diselaraskan dengan setiap
unsur didalam perusahaan tanpa terkecuali.
Kita ketahui setiap perusahaan
memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengelola persediaan bahan baku. Mulai
dari jumlah unit bahan baku, waktu penggunaan, maupun jumlah biaya untuk
membeli bahan baku. Namun terlepas dari hal itu setiap perusahaan pasti membutuhkan
pengelolaan persediaan bahan baku yang tepat. Tanpa adanya pengelolaan
persediaan bahan baku yang tepat perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan
produksi yang baik. Perlu diketahui juga, apabila persediaan bahan baku
dilakukan dalam jumlah yang terlalu besar over stock akan menyebabkan
beberapa kerugian. Kerugian yang pertama yaitu biaya penyimpanan yang
ditanggung perusahaan akan semakin besar, selain itu perusahaan harus menanggung
resiko kerusakan dalam penyimpanan. Kerugian yang kedua yaitu perusahaan harus
mempersiapkan dana yang cukup besar untuk pembelian bahan baku. Oleh karena
itu, persediaan bahan baku dalam jumlah yang terlalu besar akan meyebabkan
alokasi modal untuk investasi pada bidang-bidang yang lain akan berkurang.
Dengan kata lain dapat disebutkan jumlah persediaan bahan baku yang terlalu besar
justru akan menjadi penghalang dari kemajuan bidang-bidang yang lain dalam
perusahaan tersebut.
Adapun beberapa kelemahan
apabila persediaan bahan baku dilakukan dalam jumlah yang terlalu kecil out
of stock akan menyebabkan terhambatnya proses produksi. Persediaan bahan
baku dalam jumlah yang terlalu kecil kadang-kadang tidak dapat memenuhi kebutuhan
perusahaan untuk melaksanakan proses produksi. Apabila perusahaan tersebut
kehabisan bahan baku maka pelaksanaan proses produksi tidak dapat berjalan
lancar dan akibatnya kualitas dari produk akhir menjadi rendah. Selain itu
persediaan bahan baku dalam jumlah yang relatif kecil akan mengakibatkan
frekwensi pembelian bahan baku yang semakin besar, sehingga biaya pemesanan
yang ditanggung perusahaan akan semakin besar.
B. Rumusan
Masalah
Penulisan rumusan masalah
digunakan penulis sebagai acuan dalam rangka melakukan penelitian. untuk itu
penulis ingin mengangkat permasalahan sebagai berikut.
1.
Berapakah pembelian rata – rata bahan baku yang
ekonomis dan optimal pada Perusahaan Handuk Lumintu ?
2.
Berapa jumlah Total biaya Persediaan Perusahaan
Handuk Lumintu ?
3. Berapa
Frekuensi pemesanan Perusahaan Handuk Lumintu?
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini
antara lain :
1.
Untuk mengetahui pembelian rata – rata bahan
baku yang ekonomis dan optimal pada Perusahaan Handuk Lumintu.
2.
Mengetahui jumlah Total biaya Persediaan
Perusahaan Handuk Lumintu.
3.
Mengetahui Frekuensi pemesanan Perusahaan Handuk
Lumintu.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Persediaan
1. Pengertian
Persediaan
Pada setiap tingkatan perusahaan, baik besar maupun kecil,
menengah maupun perusahaan besar, persediaan sangat penting bagi kelangsungan
perusahaan. Selain itu tanpa adanya persediaan perusahaan akan dihadapkan pada
resiko bahwa suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen. Perusahaan
atau organisasi memerlukan persediaan karena tiga alasan yaitu adanya unsur
ketidakpastian permintaan (permintaan mendadak), adanya unsur ketidakpastian
tenggang waktu pemesanan.
Menurut Handoko (1999:33) persediaan adalah segala sesuatu
atau sumber-sumber dari daya sumber organisasi yang disimpan dalam
antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan adalah sumber daya
menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut (Nasution
2003:103).
Sedangkan menurut Ahyari (1990 :163) Persediaan adalah setiap
perusahaan yang menghasilkan produkakan memerlukan bahan baku, dimana bahan
baku merupakan bahan yang integral produk jadi.
2. Fungsi
Persediaan
Persediaan berfungsi untuk menghubungkan operasi perusahaan
dengan pembelian bahan baku untuk selanjutnya diolah untuk dijadikan barang
atau jasa yang kemudian diarahkan pada konsumen. Dengan demikian adanya
persediaan memungkinkan terlaksananya operasi produksi bagi perusahaan.
Persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang akan menambahkan
fleksibilitas operasi perusahaan. Efisiensi operasional suatu perusahaan dapay
ditingkatkan karena berbagai fungsi penting persediaan. Harus didingat bahwa
persediaan adalah sekumpulan produk phisikal pada berbagai tahap proses transformasi
dari bahan mentah, barang dalam proses, dan barang jadi. Fungsi penting
persediaan adalah memungkinkan operasioperasi perusahaan internal dan eksternal
mempunyai kebebasan. Persediaan ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi
permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier (Handoko, 1999:335).
Sedangkan menurut Heizer dan Render (2005:60) fungsi persediaan
adalah :
a.
Untuk memisahkan beragam bagian produksi,
sebagai contoh:
jika
pasokan sebuah perusahaan berfluktuasi, maka mungkin diperlukan
persediaan-persediaan tambahan untuk mendecouple proses produksi dari
pemasok.
b.
Untuk men-decouple perusahaan dari
fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan
pilihan bagi pelanggan. Persediaan semacam ini umumnya terjadi pada pedagang
eceran.
c.
Untuk mengambil keuntungan diskon kuantitas,
sebab pembelian dalam jumlah lebih besar dapat mengurangi biaya produksi atau
pengiriman barang.
d.
Untuk menjaga pengaruh inflasi dan naiknya
harga.
3. Jenis
Persediaan
Menurut Heizer dan render (2005:61) untuk mengakomodasi
fungsi persediaan, perusahaan memiliki empat jenis persediaan, yaitu :
a. Persediaan
bahan baku
Bahan
baku pada umumnya dibeli tetapi belum memasuki proses pabriksasi.
b. Persediaan
barang setengah jadi
Bahan
baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai
atau belum menjadi produk jadi.
c. MRO
(Maintenance Repair Operating)
Persediaan
yang diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan atau operasi yang
diperlukan untuk menjaga agar permesinan dan proses produksi tetap produktif. MRO
tetap ada karena kebutuhan dan waktu pemeliharaan.
d. Persediaan
Barang Jadi
Adalah
merupakan produk akhir proses tranformasi yang siap dipasarkan kepada konsumen.
Proses
Produksi

Gambar
1
Proses
Transformasi Produksi
Dalam proses tranformasi tersebut akan menjadi sistem
yang lebih luas yaitu produksi, dimana produksi melibatkan empat faktor
penting dalam produksi yang sering disebut faktor produksi. Keempat
faktor tersebut adalah bahan baku, tenaga kerja, modal dan peralatan.
Sedangkan menurut Assauri (1998:171) persediaan yang
terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menjadi beberapa cara.
Diantaranya dilihat dari jenis dan posisi barang tersebut didalam urutan
pengerjaan produk, persediaan dibedakan atas :
1) Persediaan
bahan baku (Raw Materials Stock)
Merupakan persediaan barang-barang berwujud yang digunakan
dalam proses produksi, bahan baku dapat diperoleh dari sumber-sumber alam,
membeli dari para supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan
dalam proses produksi selanjutnya.
2) Persediaan
komponen-komponen rakitan (purchased parts/components stocks)
Merupakan persediaan barang-barang yang terdiri dari
komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung
dapat dirakit menjadi suatu produk.
3) Persediaan
bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplies stocks)
Merupakan persediaan barang-barang atau bahanbahan yang
diperlukan dalam proses produksi tetapi bukan merupakan bagian atau komponen
barang jadi.
4) Persediaan
barang dalam proses atau barang setengah jadi (work in process/proges stock)
Persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari
tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau bahanbahan yang telah diolah
menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang
jadi.
5) Persediaan
barang jadi
Merupakan barang-barang yang telah selesai diproses atau
diolah dalam prabik dan siap untuk dijual kepada konsumen atau perusahaan lain.
4.
Jenis-jenis biaya persediaan
Setiap perusahaan yang
memiliki persediaan selalu diikuti dengan timbulnya resiko, salah satunya
adalah resiko biaya. Menurut Arman Hakim (2003:105) biaya-biaya yang
timbul karena adanya persediaan adalah:
a. Biaya
Pembelian
Biaya pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli
barang. Besarnya biaya pembelian ini tergantung pada jumlah barang yang dibeli
dan harga satuan barang.
b. Biaya
pengadaan
Biaya pengadaan dibedakan atas dua jenis sesuai asal usul
barang, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) bila barang yang diperlukan
diperoleh dari pihak luar (supplier) dan biaya pembuatan (set-up cost) bila
barang diperoleh dengan memproduksi sendiri.
c. Biaya
pemesanan
Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk
mendatangkan barang dari luar. Biaya ini meliputi biaya untuk menetukan pemasok
(supplier), pengetikan pesanan, pengiriman pesanan, biaya pengangkutan, biaya
penerimaan dan seterusnya
d. Biaya
pembuatan
Biaya pembuatan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam
mempersiapkan produksi suatu barang. Biaya ini timbul didalam pabrik yang
meliputi biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, mempersiapkan gambar
kerja dan seterusnya.
e. Biaya
penyimpanan
Biaya simpan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat
menyimpan barang, biaya ini meliputi :
1) Biaya
memiliki persediaan (biaya modal)
Penumpukan barang digudang berarti penumpukan modal,
dimana modal perusahaan mempunyai ongkos (expense) yang dapat diukur dengan
suku bunga bank.
2) Biaya
gudang
Barang yang disimpan memerlukan tempat penyimpanan
sehingga timbul biaya gudang, biaya kerusakan dan penyusutan.Barang yang
disimpan mengalami kerusakan dan penyusutan karena beratnya berkurang ataupun
jumlahnya berkurang karena hilang. Biaya ini biasanya diukur dari Pengalaman
sesuai dengan presentasinya.
f. Biaya
kadaluwarsa
Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai
karena perubahan teknologi dan model seperti barangbarang elektronik. Biaya ini
biasanya diukur dengan besarnya penurunan harga jual dari barng tersebut.
g. Biaya
assuransi
Barang yang disimpan diasumsikan untuk menjaga hal-hal
yang tidak dinginkan seperti kebakaran. Biaya assuransi tergantung pada jenis
barang yang diassuransikan dan perjanjian dengan perusahaan assuransi.
h. Biaya
administrasi
Biaya ini dikeluarkan untuk mengadministrasi persediaan
barang yang ada, baik pada saat pemesanan, penerimaan barang maupun
penyimpanannya. Dalam manajemen persediaan, terutama yang berhubungan dengan
masalah kuantitatif. Biaya simpan per unit diasumsikan linier terhadap jumlah
barang yang disimpan (misalnya : Rp /unit /tahun).
B.
Pengendalian Persediaan
1. Pengertian
Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan
pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan
pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan
harus diadakan Herjanto (1999 : 219).
Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan
untuk menentukantingkat dan komposisi dari persediaan, parts bahan bakudan
barang hasil produksi sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi
dengan efektif dan efisien (Assauri, 1999 : 176)
2. Tujuan
Pengendalian Persediaan
Menurut Handoko (2000:359) berpendapat bahwa tujuan perusahaan
menerapkan pengedalian persediaan adalah untuk:
a. Mengusahakan
agar apa yang telah direncanakan bisa terjadi menjadi kenyataan.
b. Mengusahakan
agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan.
c.
Mengetahui kelemahan-kelemahan serta
kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan
pengendalian persediaan adalah untuk menjamin terdapatnya persediaan pada
tingkat optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dengan biaya
persediaan yang minimal.
C. Persediaan
Penyelamat (Safety Stock)
Menurut Assauri (1998:198) persediaan
penyelamat adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau
menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Akibat pengadaan
persediaan penyelamat terhadap biaya pemisahan adalah mengurangi kerugian yang
ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan
menambah besarnya carrying cost. Besarnya pengurangan biaya atau
kerugian perusahaan adalah sebesar perkalian antar jumlah persediaan penyelamat
yang diadakan untuk menghadapi stock out dengan biaya stock out per
unit. Pengadaan persediaan penyelamat oleh perusahaan dimaksudkan untuk
mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi
juga pada saat itu diusahakan agar carrying cost serendah mungkin. Ada
beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan penyelamat yaitu penggunaan
bahan baku, faktor waktu, dan biayabiaya yang dugunakan. Untuk menentukan biaya
persediaan penyelamat digunakan analisa statistik yaitu dengan
mempertimbangkan penyimpangan-penyimpangan
yang telah terjadi antara perkiraan pemakaian bahan baku dengan pemakaian sebenarnya
sehingga diketahui standar deviasinya. Adapun rumus standar deviasi adalah
sebagai berikut :

Keterangan :
SD = Standar deviasi
X = Pemakaian sesungguhnya
x = Perkiraan pemakaian
N = Jumlah data
Sedangkan rumus yang digunakan untuk menghitung
persediaan pengaman adalah sebagai berikut :
SS = SDxZ
Keterangan :
SS = Persediaan pengaman
(Safety Stock)
SD = Standar Deviasi
Z = Faktor keamanan
ditentukan atas dasar kemampuan perusahaan.
D. Waktu
Tunggu (Lead Time)
Untuk menjamin kelancaran
proses produksi perusahaan perlu memperhatikan jangka waktu antara saat
mengadakan pemesanan dengan saat penerimaan barang-barang yang dipesan kemudian
dimasukkan kedalam gudang. Lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan
bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan dinamakan lead
time. Bahan baku yang datang terlambat mengakibatkan kekurangan bahan baku.
Sedangkan bahan baku yang datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan
akan memaksa perusahaan memperbesar biaya penyimpanan bahan baku. Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam menetukan lead time adalah:
1.
Stock Out Cost
Stock
Out Cost adalah biaya-biaya yang terpaksa dikeluarkan karena keterlambatan
datangnya bahan baku.
2.
Extra Carrying Cost
Extra
Carrying Cost adalah biaya-biaya yang terpaksa dikeluarkan karena
keterlambatan bahan baku datang lebih awal.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Kebijakan
perusahaan
1.
Kebutuhan bahan baku
Selama ini
kebutuhan bahan baku handuk lumintu dijanti klaten memperoleh bahan baku dari
berbagai suplayer, kebijakan pengadaan bahan baku dilakukan sesuai dengan
permintaan pasar.
Tabel
1
Data
Kebutuhan bahan baku tahun 2009

Sumber : Data
kebutuhan bahan baku benang tahun 2009
pada Perusahaan Handuk Lumint
2. Pembelian
rata – rata bahan baku benang
Untuk
menentukan jumlah pembelian bahan baku benang pada Perusahaan Handuk Lumintu
dapat dihitung sebagai berikut :

Jadi
rata – rata jumlah pembelian bahan baku setiap pemesanan = 556,25 kg
B.
Biaya
pemesanan
Biaya
yang terkait pemesanan di perusahaan Handuk Lumintu adalah :
a. Biaya
telepon
b.
Biaya administrasi
Tabel
2
Data
pemesanan bahan baku tahun 2009

sumber : Data biaya
pemesanan tahun 2009 Pada
Perusahaan Handuk Lumintu.
Untuk menghitung besarnya
biaya pemesanan sekali pesan maka dapat dihitung dengan rumus :

Jadi besarnya biaya 1
kali pesan pada Perusahaan Handuk Lumintu adalah Rp 360.000,-
C.
Biaya
penyimpanan
Biaya – biaya yang
dikeluarkan karena perusahaan melakukan penyimpanan dan pengadaan persediaan
bahan baku. Perincian biaya penyimpanan pada Perusahaan Handuk Lumintu Adalah :
Biaya listrik, Biaya pemeliharaan gudang, dan Biaya tenaga kerja. Karena
perusahaan tidak menanggung biaya lain – lain dalam penyimpanan bahan baku
selain biaya tersebut.
Tabel
3
Data
Penyimpanan bahan baku tahun 2009

Sumber : Data
penyimpanan bahan baku tahun 2009
pada Perusahaan
Handuk Lumintu
Besarnya biaya
penyimpanan per unit dapat dihitung dengan rumus :

D.
Total
biaya persediaan
Dapat
dihitung :
a. Total
kebutuhan bahan baku (D) 6675 Kg
b. Pembelian
rata rata bahan baku (Q) 556,25 Kg
c. Biaya
pesan sekali pesan (S) Rp 360.000
d.
Biaya penyimpanan bahan baku per unit (H) Rp
5.583,52
Penghitungan total biaya
persediaan :

Jadi total biaya
persediaan yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah Rp 5.872.916,5
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari analisis data dan
pembahasan yang penulis uraikan pada bab 3 dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Menurut
kebijakan perusahaan pembelian rata – rata bahan baku benang adalah sebanyak
556,25 kg,
2. Menurut
kebijakan perusahaan Total biaya Persediaan adalah Rp 5.872.916,5.
3. Frekuensi
pemesanan perusahaan sebelumnya 12 kali pemesanan dalam setahun,
B.
Saran
Setelah penulis mengadakan
perhitungan dan menganalisis masalah di Perusahaan Handuk Lumintu, maka penulis
mengajukan saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam kebijakan pengadaan
bahan baku, antara lain :
1. Perusahaan
Handuk Lumintu khususnya bagian gudang perlu mengadakan persediaan pengaman (safety
stock) untuk mencegah kekurangan bahan baku pada saat proses produksi sedang
berlangsung dan menentukan waktu dan jadwal yang tepat untuk melakukan
pemesanan kembali bahan baku guna menjamin kelancaran proses produksi.
2. Perusahaan
hendaknya melakukan pemesanan kembali (re order point) untuk menghindari
keterkambatan pemesanan bahan baku agar biaya penyimpanan digudang dapat
optimal.
3.
Perusahaan harus mengadakan pelatihan terhadap
karyawan tentang safety stock dan re order point, agar kedepannya
karyawan dapat menerapkan (safety stock) dan juga (re order Point)
diperusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahyari, Agus 1990. Manajemen
Produksi, Edisi A. Yogyakarta BPFE UGM.
Assauri, sofyan 1999. Manajemen
Produksi dan Operasi, Edisi revisi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Jakarta.
Assauri, Sofyan. 1998. Manajemen
Produksi dan Operasi. Edisi Keempat. Jakarta: FE UI.
Desy, Fransisca 2007. Analisis
Pengendalian Bahan Baku Kain Grey dengan metode EOQ pada CV. Harapan Jaya
Klaten. Tugas Akhir. FEUNS : Surakarta.
Handoko, T.Hani. 2000. Dasar-dasar
Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: BPFE.
Hanggana, Sri. 2006. Prinsip
Dasar Akuntansi Biaya. Surakarta: Mediatama.
Herjanto Eddy 1999. Manajemen
Produksi dan Operasi, Edisi kedua. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,
Jakarta.
Nasution, Arman Hakim. 2003. Perencanaan
dan Pengendalian Produksi. Edisi Pertama. Surabaya: Guna Widya.
Render, Barry; Heizer, Jay.
2005. Manajemen Operasi. Edisi Ketujuh. Bandung: Salemba Empat.
Yamit, Zulian. 1998. Manajemen
Persediaan. Edisi Pertama. FE UII. Yogyakarta.

No comments:
Post a Comment