MAN JADDA WAJADA , MAN SHABARA ZHAFIRA
Powered By Blogger

Sunday, 2 November 2014

PENERAPAN IQ, EQ, DAN SQ DALAM DUNIA PENDIDIKAN

TUGAS UKD 2 PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
PAPER TENTANG
PENERAPAN IQ, EQ, DAN SQ DALAM DUNIA PENDIDIKAN


UNS LOGO.jpg

OLEH   :
HABSETOAJI YOGA PRATAMA
H0812076
AGB-5B



PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
I.                    PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dewasa ini merupakan zaman globalisasi dimana pertukaran informasi dan teknologi berkembang dengan pesatnya. Perkembangan tersebut tidak lepas dari sumber daya manusia yang ada didalamnya. Sumber daya manusia tersebut tentu saja dikontrol oleh perilaku pendidikan yang berkembang. Dalam menyukseskan pendidikan harus mengetahui potensi dan karakteristik dari peserta didik (objek) tersebut agar tercapai hasil yang maksimal. Potensi seseorang ini perlu diperhatikan karena pembenahan potensi diri yang dilakukan dengan baik dapat meningkat konsep dan pemahaman peserta didik sehingga menghasilkan prestasi yang memuaskan. Penerapan IQ, EQ, dan SQ sangatlah penting dalam dunia pendidikan. 3 unsur tersebut saling memiliki keterikatan antara satu sama lain. Sehingga 3 unsur tersebut harus memiliki porsi yang seimbang di dalam diri seseorang. Serta IQ, EQ, dan SQ merupakan 3 unsur yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap orang untuk mencapai masa depan yang sukses dan mulia.
B.      Rumusan Masalah
1.      Apa definisi IQ, EQ, dan SQ ?
2.      Bagaimana penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam dunia pendidikan ?



II.                  PEMBAHASAN
A.      Definisi IQ, EQ, dan SQ
1.      Intelegent Quotient ( IQ ) / Kecerdasan Intelektual
IQ atau intelegen quotiens merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia dan terletak pada fungsi otak neocontec. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet seorang ahli psikologi pada tahun 1905 di Paris, Perancis. Kemudian berkembang di negara Amerika pada masa perang dunia pertama.
2.      Emosi Quottient ( EQ ) atau Kecerdasan Emosi
EQ atau emotional quotients adalah kemampuan seorang manusia untuk memahami dirinya sendiri maupun orang lain atau biasa disebut bersimpati atau lebih dalamnya berempati dan menjadikan pengetahuan itu sebagai the finding problem. EQ sendiri terletak pada fungsi otak lymbicsystem dan pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Walman pada tahun 1995. Dalam EQ terdapat beberapa kemampuan seperti kreativitas, pengambilan resiko, kemampuan mengambil kesempatan dan hal-hal lain yang menyangkut peluang, maka tidak heran jika banyak pakar berpendapat bahwa EQ ini sangat berperan dalam penentu kesuksesan, bahkan menurutnya kecerdasan intelektual hanya 6% atau maksimal 20% dalam penentuan kesuksesan sedangkan EQ dapat berpengaruh 80% nya. Bahkan ada sebuah quotes yang mengatakan “kemampuan mengendalikan emosi membuat bisnis 100% lebih sukses.” Seperti 3 cerita yang akan dipaparkan dibawah ini untuk penguatan pendapat tersebut.


3.      Spiritual Quotient ( SQ ) atau kecerdasan spiritual
SQ (Spiritual Quotients) merupakan ukuran kecerdasan jiwa yang berasal dari dalam hati yang membantu seseorang membangun dirinya secara utuh, tetapi tidak terikat dengan budaya atau nilai tertentu. SQ sendiri juga diartikan sebagai mempelajari apa yang orang lain telah ajarkan, mempertanyakan masalah kehidupan, berpikir secara lateral (out of the box), melihat situasi dan isu-isu yang berbeda, memiliki pemahaman yang lebih besar dari segala kemungkinan, dan kreatif dalam melihat dan menyelesaikan masalah. SQ mampu membuat seseorang untuk dapat bangkit ketika mengalamai kegagalan dan dapat memaknai setiap kegiatan yang dilakukannya sebagai ibadah demi kepentingan umat manusia dan Tuhan.
4.      Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam dunia pendidikan
1.      Intelegent Quotient ( IQ ) / Kecerdasan Intelektual
IQ adalah modal dasar siswa atau mahasiswa untuk meraih keberhasilan. akan tetapi test tersebut juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia kronologisnya. IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.
2.      Emosi Quottient ( EQ ) atau Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk “mendengarkan” bisikan emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel” Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional (EQ). Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Ya inilah kecerdasan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, Emotional Quotient atau EQ. EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan didunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari, EQ disebut sebagai akal sehat.
3.      Spiritual Quotient ( SQ ) atau kecerdasan spiritual
Kecerdasan ini pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. SQ juga bermakna kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada orang yang ber SQ rendah. Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif sari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau kecerdasan spiritual mereka sangat rendah. 

III.                REFLEKSI DIRI
A.      Pendapat
Berdasarkan ketiga aspek kecerdasan tersebut dapat dikatakan pendidikan dapat tercapai dengan memuaskan jika peserta didiknya telah memiliki IQ, EQ, dan SQ yang baik. Namun, jika kita menyorot pendidikan di Indonesia atau beberapa negara lainnya, cendrung untuk memfokuskan dalam pengembangan IQ atau kognitifnya saja dengan terkesan mengesampingkan komponen EQ dan SQ. Pengembangan terhadap IQ dapa menciptakan orang yang pintar, tetapi serakah dan egois karena kurangnya pengembangan aspek EQ, dan SQ pada dirinya. Dengan demikian maka pendidik perlu mengajarkan EQ seperti menambah proses belajar kelompok dan SQ melalui  memperdalam spiritual peserta didik. Sebagai contoh seseorang peserta didik dengan(SQ) yang tinggi mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya sehingga ketenangan hati akan muncul, ketenangan hati tersebut akan memberikan sinyal EQ untuk menurunkan niat untuk lebih nyaman bersimpati dalam bekerja dengan orang lain, dan dengan kenyamanan yg demikian mendukung maka seseorang dapat berpikir dengan maksimal sehingga IQ yang dimilikinya dapat meningkat dengan optimal.
B.      Gagasan
Langkah untuk mewujudkan manusia yang sukses maka proses pendidikan yang dilakukan harus berusaha untuk menyeimbangkan pengembangan terhadap komponen IQ, EQ, dan SQ.

IV.               KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, ketiga unsur tersebut sangatlah memiliki peran sendiri-sendiri dalam menghadapi persoalan. Seperti contoh IQ untuk profesi masa depan, EQ untuk nilai moral kepada orang lain, dan SQ untuk pencarian makna hidup. Atau bisa digunakan untuk pedoman yang lain. Sehingga Ketiga unsur ini patut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya di dunia pendidikan. Karena pada umumnya, pendidikan cenderung meningkatkan pribadi pelajar dalam hal IQ. Apabila seorang pelajar sejak kecil sudah memiliki ketiga unsur secara seimbang, pasti Indonesia akan mencetak generasi muda yang cerdas, terpuji, dan santun. Persoalan mengenai KKN, kebodohan, Kekerasan pasti akan surut dan hilang.
Hal yang penting dan harus digaris bawahi adalah ketiga unsur ini harus seimbang di dalam diri seseorang. Apabila sebagian besar pelajar di Indonesia telah memiliki IQ, EQ dan SQ yang tinggi, saya tidak ragu bahwa Indonesia akan menjadi negara yang memiliki generasi muda penerus bangsa yang sangat cerah. Serta dapat Menjadikan Indonesia yang presatif, inovatif, dan berbudi luhur.

DAFTAR PUSTAKA
______http://akulb.blogspot.com/2012/04/peran-iq-eq-dan-sq-pada-pendidikan.html. Diakses pada tanggal 02 November 2014.
______http://opini.berita.upi.edu/2013/06/09/mengenal-iq-eq-dan-sq/. Diakses pada tanggal 02 November 2014.
______http://fitriyantows.blogspot.com/2013/09/beasiswadataprint.html. Diakses pada tanggal 02 November 2014.
______http://aampuh.blogspot.com/2013/11/penerapan-iq-sq-eq-dalam-pendidikan.html. Diakses pada tanggal 02 November 2014.

ANALISIS PENGARUH KUALITAS KEHIDUPAN

ANALISIS PENGARUH QUALITY WORK LIFE (KUALITAS KEHIDUPAN KERJA) DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Studi pada PD BPR BKK Kalikotes)



Disusun Oleh :
HABSETOAJI YOGA PRATAMA
H0812076


FAKULTAS PERTANIAN PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian bank, menurut Dendawijaya (2000:25) yang dimaksud bank adalah “Suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai perusahaan-perusahaan dan lain-lain.” menurut IAI dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002:31) : “Bank adalah suatu badan usaha yang tugas utamanya sebagai lembaga perantara keuangan, yang  menyalurkan dana dari pihak yang berkelebihan dana kepada pihak yang membutuhkan dana atau kekurangan dana pada waktu yang ditentukan.” Sedangkan menurut pasal 1 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, pengertian perbankan adalah : “Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.
Sumber daya manusia merupakan factor yang sangat berharga, maka perusahaan bertanggungjawab untuk memelihara kualitas kehidupan kerja dan membina tenaga kerja agar bersedia memberikan kontribusinya secara optimal untuk mencapai tujuan perusahaan (Pruijt, 2003). Ada empat dimensi di dalam kualitas kehidupan kerja yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yaitu partisipasi dalam pemecahan masalah, sistem imbalan yang inovatif, perbaikan lingkungan kerja dan restrukturisasi kerja.
Pengelolaan terhadap sumber daya manusia harus dilaksanakan secara efektif dan efisien agar tujuan organisasi dapat direalisasikan. Dalam organisasi tentunya banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan jalannya organisasi atau perusahaan tentunya diwarnai oleh perilaku individu yang merasa berkepentingan dalam kelompoknya masing-masing. Perilaku individu yang berada dalam organisasi atau perusahaan tentunya sangat mempengaruhi organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini akibat adanya kemampuan individu yang berbeda-beda dalam menghadapi tugas atau aktivitasnya.
Setiap manusia atau seseorang selalu mempertimbangkan perilakunya terhadap segala apa yang diinginkan agar dapat tercapai tanpa menimbulkan konflik baik secara individu maupun kelompok, sehingga kinerja dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan. Kinerja karyawan merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu. Kinerja karyawan merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Menurut Simamora (1997) penetapan tujuan kinerja adalah menyusun sasaran yang berguna tidak hanya bagi evaluasi kinerja pada akhir periode tapi juga untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut sedangkan Menurut Elmuti dan Kathawala (1997) ada 5 (lima) kriteria yang digunakan untuk mengukur sejauh mana kinerja karyawan secara individu, yaitu dengan melihat kualitas kerjanya, kuantitas kerjanya, pengetahuan dan ketrampilan, ketepatan waktunya dan komunikasi.
Kualitas kehidupan kerja atau Quality of Work Life (QWL) merupakan salah satu bentuk filsafat yang diterapkan manajemen dalam mengelola organisasi pada umumnya dan sumberdaya manusia pada khususnya. Sebagai filsafat, kualitas kehidupan kerja merupakan cara pandang manajemen tentang manusia, pekerja dan organisasi. Unsurunsur pokok dalam filsafat tersebut ialah: kepedulian manajemen tentang dampak pekerjaan pada manusia, efektivitas organisasi serta pentingnya para karyawan dalam pemecahan keputusan terutama yang menyangkut pekerjaan, karier, penghasilan dan nasib mereka dalam pekerjaan.
Kualitas kehidupan kerja adalah persepsi karyawan bahwa mereka ingin merasa aman, secara relatif merasa puas dan mendapat kesempatan mampu tumbuh dan berkembang selayaknya manusia (Wayne, 1992 dalam Noor Arifin 2012). Kualitas kehidupan kerja merupakan masalah utama yang patut mendapat perhatian organisasi Hal ini merujuk pada pemikiran bahwa kualitas kehidupan kerja dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangan para anggota atau karyawan terhadap organisasi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan dilakukan oleh Ari Husnawati (2006) dan Noor Arifin (2012).
Kualitas kehidupan kerja sendiri mempunyai dampak pada komitmen organisasi. Adanya kualitas kehidupan kerja pada karyawan juga menumbuhkan komitmen pada karyawan untuk tetap tinggal dalam organisasi. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan positif antara praktek kualitas kehidupan kerja dengan komitmen organisasi pernah dilakukan oleh Ari Husnawati (2006) dan juga penelitian yang dilakukan oleh Wyatt dan Wah (2001) terhadap pekerja di Singapura menyebutkan bahwa pekerja ingin diperlakukan sebgai individu yang dihargai di tempat kerja. Kinerja yang bagus akan dihasilkan pekerja jika merea dihargai dan diperlakukan seperti layaknya manusia.
Hal penting lain yang berhubungan dengan kinerja karyawan adalah komitmen karyawan pada organisasi. Komitmen organisasional juga dapat dipandang sebagai suatu keadaan yang mana seorang karyawan atau individu memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, menurut prapti,dkk (2004) komitmen organisasional yang tinggi menunjukkan tingkat keberpihakan seorang karyawan terhadap organisasi yang mempekerjakannya. Hingga saat ini berbagai riset telah membuktikan bahwa komitmen terhadap pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap work outcomes seperti keinginan untuk pindah kerja, kinerja, kepuasan kerja dan tingkat kemangkiran (Cohen, 1999).
Komitmen organisasi merupakan derajat seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dan organisasi dan berkeinginan melanjutkan partisipasi aktif di dalamnya. Komitmen organisasional yang dimiliki karyawan dalam bekerja di perusahaan atau organisasi dalam konteks ini tidak lagi dipandang semata-mata mencari nafkah belaka, tetapi lebih mendalam. Dengan adanya konsep kualitas kehidupan kerja dimana kebijakan pihak manajemen memperdayakan organisasi melalui lingkungan kerja yang manusia melalui empat dimensi kualitas kehidupan kerja tersebut maka karyawan akan lebih merasa dihargai sehingga komitmen organisasional untuk bekerja juga lebih tinggi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komitmen organisasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan yang dilakukan oleh Ari Husnawati,dkk (2006).
Berdasarkan hasil Penelitian di atas peneliti akan mengarahkan pada kajian mengenai pengaruh kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan pada PD BPR BKK Kalikotes. PD BPR BKK Kalikotes merupakan badan usaha milik Daerah Kabupaten Kalikotes yang tentunya begerak di bidang perbankan dimana pengelolaan karyawan yang benar kaitannya sangat penting dengan persaingan antar bank-bank lainnya, sehingga karyawan dituntut untuk produktif demi kemajuan PD BPR BKK Kalikotes serta supaya tetap bertahan terus menerus mencapai target yang sudah ditentukan. Manajemen kinerja yang diterapkan oleh PD BPR BKK Kalikotes ternyata belum berhasil meningkatkan antusiasme karyawan untuk memberikan hasil karya yang lebih baik untuk organisasi yang dipengaruhi oleh kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi. Hal ini dapat dilihat dari fenomena yang muncul mengenai permasalahan kualitas kehidupan kerja karyawan yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara prasurvey pada direktur utama dan beberapa karyawan PD BPR BKK Kalikotes antara lain kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh para karyawan dalam masalah perbankan sehingga tugas dan tanggung jawab pekerjaan kurang maksimal diselesaikan. Kompensasi yang diterima oleh para karyawan tidak sebanding dengan beban kerja yang mereka kerjakan. Masih terjadi tebang pilih dalam menentukan karyawan yang mengikuti diklat maupun pelatihan dan promosi serta masih kurangnya dukungan manajemen dalam penerapan hasil pendidikan maupun pelatihan dalam kehidupan organisasi. Secara tidak langsung hal ini memberikan tampak yang kurang harmonis dalam kehidupan organisasi. Selain itu rendahnya antusiasme karyawan juga dapat dilihat dari pelanggaran yang sering terjadi. Pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kesalahan karyawan yang seringkali terjadi dan hal tersebut merupakan tindakan yang menyalahi aturan SOP (Standart Operating Procedure). Setiap perusahaan memiliki SOP dalam menjalankan kegiatannya agar berjalan dengan baik dan teratur. Pelanggaran yang sering terjadi contohnya yakni terlambat masuk kerja, kesalahan penulisan slip setoran (salah penulisan dalam tanggal atau jumlah setoran dll), bolos kerja dll. Adapun data pelanggaran kerja dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 1.1
Data Pelanggaran Kerja Karyawan PD BPR BKK Kalikotes
Tahun 2010 – 2012
Tahun
(a)
Pelanggaran
(b)
Presentasi
(b/25 x 100%)

Kenaikan
2010
1 orang
0,04%
0%
2011
1 orang
0,04%
0%
2012
0 orang
0%
-0,04%




                               Sumber : PD BPR BKK Kalikotes, 2013
Berdasarkan tabel 1.1 di atas menunjukkan adanya peningkatan pelanggaran kerja. Peningkatan pelanggaran kerja tersebut dipengaruhi oleh rendahnya komitmennya karyawan terhadap organisasi yang mengindikasikan kinerja menjadi menurun dengan ditunjukkan pencapaian target kredit dari nasabah selama lima tahun terakhir 2008 – 2012 yang ditetapkan PD BPR BKK Kalikotes tidak tercapai bahkan rata-rata mengalami penurunan.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini akan mengambil judul “ Analisis Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PD BPR BKK Kalikotes)”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalah pada PD BPR BKK Kalikotes yang mengalami penurunan kinerja yang ditunjukkan oleh fenomena yang muncul yaitu pencapain target kredit dari nasabah selama lima tahun terakhir 2008 – 2012 yang ditetapkan PD BPR BKK Kalikotes tidak tercapai bahkan rata-rata mengalami penurunan. Penurunan target pencapaian kredit nasabah dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi karyawan, maka timbul pertanyaan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.        Bagaimana pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap kinerja karyawan ?
2.        Bagaimana pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan ?

C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.      Untuk menganalisis pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap kinerja karyawan.

2.      Untuk menganalisis pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan.

MANAJEMEN AGROINDUSTRI KOPI LUWAK

MANAJEMEN AGROINDUSTRI KOPI LUWAK
(STUDI KASUS PADA CV. CAREUH COFFEE)
UNS LOGO.jpg

Disusun Oleh  :
HABSETOAJI YOGA PRAATAMA
H0812076
AGB-5B


FAKULTAS PERTANIAN PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
A.    SEGMENTASI PASAR
Segmentasi pasar dari CV. Careuh Coffee adalah segmentasi yang berdasarkan demografi wilayah Kabupaten Bandung. Jenis segmentasi pasar tersebut diantaranya pendapatan serta psikografi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa segmentasi pasar CV. Careuh Coffee adalah gaya hidup dari masyarakat Kabupaten Bandung itu sendiri.
B.     PENENTUAN TARGET PASAR
Penentuan target pasar CV. Careuh Coffee berdasarkan segmentasi pasar yang sudah dijelaskan di atas adalah meliputi masyarakat yang menyukai kopi luwak itu sendiri dan menjadikan kopi sebagai salah satu life style atau gaya hidup mereka.
C.    DIFFERESIASI PRODUK
Differensiasi produk dari CV. Careuh Coffee tersebut ditentukan oleh perbedaan dari berat masing-masing produk kopi serta perbedaan dari harga berdasarkan berat yang sudah ditentukan oleh perusahaan itu sendiri.
D.    POSITIONING
Positioning atau pemosisian diri dari CV. Careuh Coffee berdasarkan target dari kondisi asal CV. itu sendiri yaitu Ciwidey. Selain target pasar dari CV. Careuh Coffee yang sudah disebutkan di atas, adapula target yang lain diantaranya adalah wisatawan lokal maupun internasional yang berkunjung ke Ciwidey. CV. Careuh Coffee memposisikan dirinya sebagai kopi luwak yang mempunyai cita rasa khas dan eksotis.



E.     STRATEGI PEMASARAN
1.      Product / Produk
Produk yang dihasilkan adalah kopi luwak yang berasal dari kopi Arabica. Kopi dari para petani tersebut kemudian di fermentasikan oleh binatang luwak yang dipelihara sendiri. Saat ini Careuh Coffee mampu menghasilkan kopi luwak antara 50-100 Kg per bulan, akan tetapi permintaan rata-rata perbulan berkisar antara 20-30 kg.
2.      Price / Harga
Penentuan harga dari produk kopi CV. Careuh Coffee adalah berdasarkan dari differensiasi produk itu sendiri, diantaranya :
a.       Careuh Coffee serbuk 8gr dengan harga Rp 15.000,-
b.      Careuh Coffee serbuk 50gr dengan harga Rp 70.000,-
c.       Careuh Coffee serbuk 100gr dengan harga Rp 130.000,-
d.      Careuh Coffee serbuk 250gr dengan harga Rp 320.000,-
e.       Careuh Coffee serbuk 1kg dengan harga Rp 1.300.000,-
3.      Promotion / Promosi
Saat ini CV. Careuh Coffee telah melakukan beberapa aktivitas-aktivitas promosi, berikut beberapa aktivitas promosi yang telah dilakukan oleh Careuh Coffee diantaranya pemeran yang difasilitasi dari media masa juga marketing berupa website dan social media, publisitas dari media masa juga pejabat daerah, akan tetapi bentuk promosi belum maksimal dan berkelanjutan.
4.      Place / Tempat

Careuh Coffee memasarkan produknya melalui Coffee Shop yang berlokasi di Jalan Rancabali Ciwidey. Selain itu beberapa pelanggan Careuh Coffee ada yang memesan secara online maupun pemesanan melalui SMS / telepon kepada pihak Careuh Coffee.

HBZTO's Blog