MAN JADDA WAJADA , MAN SHABARA ZHAFIRA
Powered By Blogger

Friday, 10 June 2016

MAKALAH PENGARUH KELOMPOK SOSIALBUDAYA TERHADAP PERILAKU KONSUMEN

MAKALAH
PENGARUH KELOMPOK SOSIALBUDAYA TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
(BUYER BEHAVIOR)








DI SUSUN OLEH :
ANGGOTA KELOMPOK 1
1.              AKBAR FAUZIE                             H0812009
2.              DINAN AZIFAH                              H0812043
3.              HABSETO AJI PRATAMA           H0812076
4.              KHONITA ARLIANISA                 H0812092
5.              NUR HANIFAH                               H0812134
6.              RATIH DWI KARTIKASARI       H0812149
7.              RIZQI RAMADHANI                     H0812161

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
I.                   PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang, terutama dalam perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya.
Dalam perkembangan sejarah budaya konsumsi maka masyarakat konsumsi lahir pertama kali di Inggris pada abad 18 saat terjadinya tehnologi produksi secara massal. Tehnologi yang disebabkan oleh berkembangnya revolusi industri memungkinkan perusahaan-perusahaan memproduksi barang terstandarisasi dalam jumlah besar dengan harga yang relatif murah. Pada saat yang bersamaan muncul revolusi kebudayaan, di mana masyarakat secara bertahap berubah dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang kekotaan, karena dengan berpindahnya ke perkotaan maka budaya mereka berubah sehingga berkembanglah tata nilai baru dan pola kehidupan yang baru akibat pekerjaan yang berbeda. Tidak hanya orang yang kaya saja bahkan orang yang biasa juga merasa perlu membeli produk yang dapat memuaskan kebutuhan budaya baru, seperti munculnya perbedaan status yang makin menonjol di kalangan masyarakat perkotaan.
Gambaran lahirnya masyarakat konsumsi tersebut diatas, menunjukkan betapa pentingnya budaya dalam memahami perilaku konsumen. Aspek-aspek budaya yang penting dapat diidentifikasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen dan tentunya dapat digunakan dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif.
B.            Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian perilaku konsumen?
2.        Apa pengertian kebudayaan?
3.        Apa pengaruh kebudayaan dengan perilaku konsumen?
C.            Tujuan
1.      Mengatahui pengertian dari perilaku konsumen
2.      Mengetahui pengertian kebudayaan
3.      Mengetahui pengaruh kebudayaan terhadap perilaku konsumen





















II.                PEMBAHASAN
A.           Pengertian Perilaku Konsumen
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang atau organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.Atau  kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user. Dalam upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan konsumennya ke dalam kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu pengelompokan menurut geografi, demografi, psikografi, dan perilaku
Berdasarkan landasan teori, ada dua faktor dasar yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy, dan kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan prilaku konsumen. Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman. Seringkali perilaku manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.
Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
1.        Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain.
2.        Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung.
3.        Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.


B.            Pengertian Kebudayaan
Banyak definisi tentang budaya yang dipaparkan oleh para pakar, diantaranya: Kebudayaan didefinisikan sebagai kompleks simbol dan barang-barang buatan manusia (artifacts) yang diciptakan oleh masyarakat tertentu dan diwariskan dari generasi satu ke generasi yang lain sebagai faktor penentu (determinants) dan pengatur (regulator) perilaku anggotanya (Setiadi, 2003).
Definisi budaya telah dipaparkan namun secara garis besar menurut Engel, Blacwell & Miniard (1994) budaya dapat dibedakan menjadi Makro budaya (macroculture) yang mengacu pada perangkat nilai dan simbol yang berlaku pada keseluruhan masyarakat, dan Mikro budaya (microculture/ subculture) yang mengacu pada perangkat nilai dan simbol dari kelompok yang lebih terbatas, seperti kelompok agama, etnis tertentu, atau subbagian dari keseluruhan.
Budaya dapat melengkapi diri seseorang dengan rasa identitas dan perilaku yang dapat diterima di masyarakat, terutama dapat diketahui dari sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh budaya. Seperti halnya : pakaian, penampilan, komunikasi, bahasa, makanan dan kebiasaan makan, hubungan, kepercayaan, dan lain sebagainya yang seringkali meliputi semua hal yang konsumen lakukan tanpa sadar memilih karena nilai kultur mereka, adat istiadat dan ritual mereka telah menyatu dalam kebiasaan mereka sehari-hari.
Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari, karena konsumen tidak dilahirkan spontan mengenai nilai atau norma kehidupan sosial mereka, tetapi mereka harus belajar tentang apa yang diterima dari keluarga dan teman-temannya. Anak menerima nilai dalam perilaku mereka dari orang tua , guru dan teman-teman di lingkungan mereka. Namun dengan kemajuan zaman yang sekarang ini banyak produk diarahkan pada kepraktisan, misal anak-anak sekarang lebih suka makanan siap saji seperti Chicken Nugget, Sossis, dan lain-lainnya karena kemudahan dalam terutama bagi wanita yang bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk mengolah makanan.
Kebudayaan juga mengimplikasikan sebuah cara hidup yang dipelajari dan diwariskan, misalnya anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di Indonesia harus hormat pada orang yang lebih tua, makan sambil duduk dsb. Sedangkan di Amerika lebih berorientasi pada budaya yang mengacu pada nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan, individualisme, dsb.
Budaya berkembang karena kita hidup bersama orang lain di masyarakat. Hidup dengan orang lain menimbulkan kebutuhan untuk menentukan perilaku apa saja yang dapat diterima semua anggota kelompok. Norma budaya dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang dipegang oleh anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai dampak dalam perilaku membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah kesehatan akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan yang merugikan kesehatannya.
Nilai memberi arah pengembangan norma, proses yang dijalani dalam mempelajari nilai dan norma disebut ”sosialisasi atau enkulturasi”. Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, bila masyarakat cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dengan mempertahankan budaya lama disebut Accultiration.
C.            Pengaruh Kebudayaan Dengan Perilaku Konsumen
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.
Pengaruh budaya yang tidak disadari dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya dalam perilaku kita. Barulah ketika seseorang berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka, lalu baru menyadari bahwa budaya telah membentuk perilaku seseorang. Kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya yang dimiliki bila seseorang dihadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang membiasakan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari. Jadi, konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan latar belakang kebudayaan yang mereka miliki. Dan, setiap individu akan mempersepsi dunia dengan kacamata budaya mereka sendiri.
Pengaruh budaya dapat memuaskan kebutuhan yang ada di masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.
Pengaruh budaya yang berupa tradisi. Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara, dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.







III.             KESIMPULAN
Perilaku konsumen adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Teori perilaku konsumen antara lain teori ekonomi mikro, teori psikologis dan teori antropologis.
Kebudayaan merupakan simbol dan barang-barang buatan manusia (artifacts) yang diciptakan oleh masyarakat tertentu dan diwariskan dari generasi satu ke generasi yang lain sebagai faktor penentu (determinants) dan pengatur (regulator) perilaku anggotanya
Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari dan berkaitan dengan perilaku konsumen seperti pengaruh budaya dapat memuaskan kebutuhan yang ada di masyarakat, serta pengaruh budaya yang berupa tradisi.













DAFTAR PUSTAKA
Engel FJ, Roger D Blakwell, Paul W Miniard. 1994. Perilaku Konsumen, Terjemahan, Binarupa Aksara, Jakarta.
Loudon D and Della Bitta, JA. 1993. Consumer Behavior : Concepts and Applications, Mc Graw-Hill.
Mowen CJ and Minor M. 1998. Consumer behavior. Prentice Hall
Nugroho J Setiadi. 2003. Perilaku Konsumen : Konsep & Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran, Kencana, Jakarta.
Peter JP and Jerry C Olson. 2000. Consumer Behavior : Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

Sciffman GL and Kanuk,L. 1994. Consumer Behavior, Prentice Hall

ANALISIS PENGENDALIAN BAHAN BAKU PADA PERUSAHAAN HANDUK LUMINTU DI KLATEN

ANALISIS PENGENDALIAN BAHAN BAKU
PADA
PERUSAHAAN HANDUK LUMINTU
DI KLATEN


Description: Logo_UNS.GIF

Disusun Oleh :
HABSETOAJI YOGA PRATAMA
H0812076
AGRIBISNIS 5 C


FAKULTAS PERTANIAN PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................   iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
A.    Latar Belakang......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.     Tujuan....................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 4    
A.    Persediaan.............................................................................................. 4
1.      Pengertian Persediaan....................................................................... 4
2.      Fungsi Persediaan............................................................................. 4
3.      Jenis Persediaan................................................................................ 5
4.      Jenis-jenis Biaya Persediaan.............................................................. 7
B.     Pengendaliaan Persediaan.................................................................... 9
1.      Pengertian Pengendaliaan Persediaan............................................... 9
2.      Tujuan Pengendaliaan Persediaan..................................................... 9
C.    Persediaan Penyelamat (safety lock).................................................... 10
D.    Waktu Tunggu (lead time).................................................................... 11
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 13
A.    Kebijakan perusahaan......................................................................... 13
B.     Biaya Pemesanan.................................................................................. 14
C.    Biaya Penyimpanan.............................................................................. 14
D.    Total Biaya Persediaan......................................................................... 15
BAB IV PENUTUP.......................................................................................... 16
A.    KESIMPULAN..................................................................................... 16
B.     SARAN.................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA








DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Kebutuhan bahan baku tahun 2009.............................................. 13
Tabel 2. Data Pemesanan bahan baku tahun 2009.............................................. 14
Tabel 3. Data Penyimpanan bahan baku tahun 2009.......................................... 15




DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses Transformasi Produksi........................................................... 6




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia usaha di Indonesia mulai menampakkan kemajuan yang cukup pesat. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai macam usaha yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia, mulai dari usaha kecil yang dimiliki perseorangan sampai perusahaan yang telah mapan dengan memiliki anak cabang yang cukup banyak. Dengan demikian persaingan diantara perusahaan tidak dapat dihindarkan, untuk itu setiap perusahaan harus pandai memutar otak agar dapat memenangkan persaingan dan mencapai tujuan perusahaan yang sebenarnya yaitu mencapai keuntungan yang maksimal. Selanjutnya perusahaan harus mampu meningkatkan kinerja, khususnya dalam proses produksi sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi harapan konsumen.
Proses produksi yang baik dibutuhkan keseimbangan antara factor produksi, yang meliputi : bahan baku, modal, mesin, metode, dan sumber daya manusia. Khusus bahan baku seringkali menjadi factor penting, dikarenakan persediaan bahan baku merupakan unsur utama dalam kelancaran proses produksi. Untuk itu setiap perusahaan harus memiliki perencanaan kebutuhan bahan baku yang baik dan harus diselaraskan dengan setiap unsur didalam perusahaan tanpa terkecuali.
Kita ketahui setiap perusahaan memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengelola persediaan bahan baku. Mulai dari jumlah unit bahan baku, waktu penggunaan, maupun jumlah biaya untuk membeli bahan baku. Namun terlepas dari hal itu setiap perusahaan pasti membutuhkan pengelolaan persediaan bahan baku yang tepat. Tanpa adanya pengelolaan persediaan bahan baku yang tepat perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan produksi yang baik. Perlu diketahui juga, apabila persediaan bahan baku dilakukan dalam jumlah yang terlalu besar over stock akan menyebabkan beberapa kerugian. Kerugian yang pertama yaitu biaya penyimpanan yang ditanggung perusahaan akan semakin besar, selain itu perusahaan harus menanggung resiko kerusakan dalam penyimpanan. Kerugian yang kedua yaitu perusahaan harus mempersiapkan dana yang cukup besar untuk pembelian bahan baku. Oleh karena itu, persediaan bahan baku dalam jumlah yang terlalu besar akan meyebabkan alokasi modal untuk investasi pada bidang-bidang yang lain akan berkurang. Dengan kata lain dapat disebutkan jumlah persediaan bahan baku yang terlalu besar justru akan menjadi penghalang dari kemajuan bidang-bidang yang lain dalam perusahaan tersebut.
Adapun beberapa kelemahan apabila persediaan bahan baku dilakukan dalam jumlah yang terlalu kecil out of stock akan menyebabkan terhambatnya proses produksi. Persediaan bahan baku dalam jumlah yang terlalu kecil kadang-kadang tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan untuk melaksanakan proses produksi. Apabila perusahaan tersebut kehabisan bahan baku maka pelaksanaan proses produksi tidak dapat berjalan lancar dan akibatnya kualitas dari produk akhir menjadi rendah. Selain itu persediaan bahan baku dalam jumlah yang relatif kecil akan mengakibatkan frekwensi pembelian bahan baku yang semakin besar, sehingga biaya pemesanan yang ditanggung perusahaan akan semakin besar.
B.     Rumusan Masalah
Penulisan rumusan masalah digunakan penulis sebagai acuan dalam rangka melakukan penelitian. untuk itu penulis ingin mengangkat permasalahan sebagai berikut.
1.      Berapakah pembelian rata – rata bahan baku yang ekonomis dan optimal pada Perusahaan Handuk Lumintu ?
2.      Berapa jumlah Total biaya Persediaan Perusahaan Handuk Lumintu ?
3.      Berapa Frekuensi pemesanan Perusahaan Handuk Lumintu?


C.    Tujuan
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui pembelian rata – rata bahan baku yang ekonomis dan optimal pada Perusahaan Handuk Lumintu.
2.      Mengetahui jumlah Total biaya Persediaan Perusahaan Handuk Lumintu.
3.      Mengetahui Frekuensi pemesanan Perusahaan Handuk Lumintu.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Persediaan
1.      Pengertian Persediaan
Pada setiap tingkatan perusahaan, baik besar maupun kecil, menengah maupun perusahaan besar, persediaan sangat penting bagi kelangsungan perusahaan. Selain itu tanpa adanya persediaan perusahaan akan dihadapkan pada resiko bahwa suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen. Perusahaan atau organisasi memerlukan persediaan karena tiga alasan yaitu adanya unsur ketidakpastian permintaan (permintaan mendadak), adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan.
Menurut Handoko (1999:33) persediaan adalah segala sesuatu atau sumber-sumber dari daya sumber organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut (Nasution 2003:103).
Sedangkan menurut Ahyari (1990 :163) Persediaan adalah setiap perusahaan yang menghasilkan produkakan memerlukan bahan baku, dimana bahan baku merupakan bahan yang integral produk jadi.
2.      Fungsi Persediaan
Persediaan berfungsi untuk menghubungkan operasi perusahaan dengan pembelian bahan baku untuk selanjutnya diolah untuk dijadikan barang atau jasa yang kemudian diarahkan pada konsumen. Dengan demikian adanya persediaan memungkinkan terlaksananya operasi produksi bagi perusahaan.
Persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang akan menambahkan fleksibilitas operasi perusahaan. Efisiensi operasional suatu perusahaan dapay ditingkatkan karena berbagai fungsi penting persediaan. Harus didingat bahwa persediaan adalah sekumpulan produk phisikal pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah, barang dalam proses, dan barang jadi. Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasioperasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan. Persediaan ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier (Handoko, 1999:335).
Sedangkan menurut Heizer dan Render (2005:60) fungsi persediaan adalah :
a.       Untuk memisahkan beragam bagian produksi, sebagai contoh:
jika pasokan sebuah perusahaan berfluktuasi, maka mungkin diperlukan persediaan-persediaan tambahan untuk mendecouple proses produksi dari pemasok.
b.      Untuk men-decouple perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan. Persediaan semacam ini umumnya terjadi pada pedagang eceran.
c.       Untuk mengambil keuntungan diskon kuantitas, sebab pembelian dalam jumlah lebih besar dapat mengurangi biaya produksi atau pengiriman barang.
d.      Untuk menjaga pengaruh inflasi dan naiknya harga.
3.      Jenis Persediaan
Menurut Heizer dan render (2005:61) untuk mengakomodasi fungsi persediaan, perusahaan memiliki empat jenis persediaan, yaitu :
a.       Persediaan bahan baku
Bahan baku pada umumnya dibeli tetapi belum memasuki proses pabriksasi.
b.      Persediaan barang setengah jadi
Bahan baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai atau belum menjadi produk jadi.
c.       MRO (Maintenance Repair Operating)
Persediaan yang diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan atau operasi yang diperlukan untuk menjaga agar permesinan dan proses produksi tetap produktif. MRO tetap ada karena kebutuhan dan waktu pemeliharaan.
d.      Persediaan Barang Jadi
Adalah merupakan produk akhir proses tranformasi yang siap dipasarkan kepada konsumen.
Proses Produksi
Gambar 1
Proses Transformasi Produksi
Dalam proses tranformasi tersebut akan menjadi sistem yang lebih luas yaitu produksi, dimana produksi melibatkan empat faktor penting dalam produksi yang sering disebut faktor produksi. Keempat faktor tersebut adalah bahan baku, tenaga kerja, modal dan peralatan.
Sedangkan menurut Assauri (1998:171) persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menjadi beberapa cara. Diantaranya dilihat dari jenis dan posisi barang tersebut didalam urutan pengerjaan produk, persediaan dibedakan atas :
1)      Persediaan bahan baku (Raw Materials Stock)
Merupakan persediaan barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, bahan baku dapat diperoleh dari sumber-sumber alam, membeli dari para supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2)      Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components stocks)
Merupakan persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
3)      Persediaan bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplies stocks)
Merupakan persediaan barang-barang atau bahanbahan yang diperlukan dalam proses produksi tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4)      Persediaan barang dalam proses atau barang setengah jadi (work in process/proges stock)
Persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau bahanbahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5)      Persediaan barang jadi
Merupakan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam prabik dan siap untuk dijual kepada konsumen atau perusahaan lain.
4.      Jenis-jenis biaya persediaan
Setiap perusahaan yang memiliki persediaan selalu diikuti dengan timbulnya resiko, salah satunya adalah resiko biaya. Menurut Arman Hakim (2003:105) biaya-biaya yang timbul karena adanya persediaan adalah:
a.       Biaya Pembelian
Biaya pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang. Besarnya biaya pembelian ini tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan harga satuan barang.
b.      Biaya pengadaan
Biaya pengadaan dibedakan atas dua jenis sesuai asal usul barang, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) bila barang yang diperlukan diperoleh dari pihak luar (supplier) dan biaya pembuatan (set-up cost) bila barang diperoleh dengan memproduksi sendiri.
c.       Biaya pemesanan
Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar. Biaya ini meliputi biaya untuk menetukan pemasok (supplier), pengetikan pesanan, pengiriman pesanan, biaya pengangkutan, biaya penerimaan dan seterusnya
d.      Biaya pembuatan
Biaya pembuatan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang. Biaya ini timbul didalam pabrik yang meliputi biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, mempersiapkan gambar kerja dan seterusnya.
e.       Biaya penyimpanan
Biaya simpan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan barang, biaya ini meliputi :
1)      Biaya memiliki persediaan (biaya modal)
Penumpukan barang digudang berarti penumpukan modal, dimana modal perusahaan mempunyai ongkos (expense) yang dapat diukur dengan suku bunga bank.
2)      Biaya gudang
Barang yang disimpan memerlukan tempat penyimpanan sehingga timbul biaya gudang, biaya kerusakan dan penyusutan.Barang yang disimpan mengalami kerusakan dan penyusutan karena beratnya berkurang ataupun jumlahnya berkurang karena hilang. Biaya ini biasanya diukur dari Pengalaman sesuai dengan presentasinya.

f.       Biaya kadaluwarsa
Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai karena perubahan teknologi dan model seperti barangbarang elektronik. Biaya ini biasanya diukur dengan besarnya penurunan harga jual dari barng tersebut.
g.      Biaya assuransi
Barang yang disimpan diasumsikan untuk menjaga hal-hal yang tidak dinginkan seperti kebakaran. Biaya assuransi tergantung pada jenis barang yang diassuransikan dan perjanjian dengan perusahaan assuransi.
h.      Biaya administrasi
Biaya ini dikeluarkan untuk mengadministrasi persediaan barang yang ada, baik pada saat pemesanan, penerimaan barang maupun penyimpanannya. Dalam manajemen persediaan, terutama yang berhubungan dengan masalah kuantitatif. Biaya simpan per unit diasumsikan linier terhadap jumlah barang yang disimpan (misalnya : Rp /unit /tahun).
B.     Pengendalian Persediaan
1.      Pengertian Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan Herjanto (1999 : 219).
Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan untuk menentukantingkat dan komposisi dari persediaan, parts bahan bakudan barang hasil produksi sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dengan efektif dan efisien (Assauri, 1999 : 176)
2.      Tujuan Pengendalian Persediaan
Menurut Handoko (2000:359) berpendapat bahwa tujuan perusahaan menerapkan pengedalian persediaan adalah untuk:
a.       Mengusahakan agar apa yang telah direncanakan bisa terjadi menjadi kenyataan.
b.      Mengusahakan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan.
c.       Mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pengendalian persediaan adalah untuk menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dengan biaya persediaan yang minimal.
C.    Persediaan Penyelamat (Safety Stock)
Menurut Assauri (1998:198) persediaan penyelamat adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Akibat pengadaan persediaan penyelamat terhadap biaya pemisahan adalah mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan menambah besarnya carrying cost. Besarnya pengurangan biaya atau kerugian perusahaan adalah sebesar perkalian antar jumlah persediaan penyelamat yang diadakan untuk menghadapi stock out dengan biaya stock out per unit. Pengadaan persediaan penyelamat oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi juga pada saat itu diusahakan agar carrying cost serendah mungkin. Ada beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan penyelamat yaitu penggunaan bahan baku, faktor waktu, dan biayabiaya yang dugunakan. Untuk menentukan biaya persediaan penyelamat digunakan analisa statistik yaitu dengan mempertimbangkan  penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi antara perkiraan pemakaian bahan baku dengan pemakaian sebenarnya sehingga diketahui standar deviasinya. Adapun rumus standar deviasi adalah sebagai berikut :
Keterangan :
SD = Standar deviasi
X = Pemakaian sesungguhnya
x = Perkiraan pemakaian
N = Jumlah data
Sedangkan rumus yang digunakan untuk menghitung persediaan pengaman adalah sebagai berikut :
SS = SDxZ
Keterangan :
SS = Persediaan pengaman (Safety Stock)
SD = Standar Deviasi
Z = Faktor keamanan ditentukan atas dasar kemampuan perusahaan.
D.    Waktu Tunggu (Lead Time)
Untuk menjamin kelancaran proses produksi perusahaan perlu memperhatikan jangka waktu antara saat mengadakan pemesanan dengan saat penerimaan barang-barang yang dipesan kemudian dimasukkan kedalam gudang. Lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan dinamakan lead time. Bahan baku yang datang terlambat mengakibatkan kekurangan bahan baku. Sedangkan bahan baku yang datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan akan memaksa perusahaan memperbesar biaya penyimpanan bahan baku. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menetukan lead time adalah:
1.      Stock Out Cost
Stock Out Cost adalah biaya-biaya yang terpaksa dikeluarkan karena keterlambatan datangnya bahan baku.
2.      Extra Carrying Cost
Extra Carrying Cost adalah biaya-biaya yang terpaksa dikeluarkan karena keterlambatan bahan baku datang lebih awal.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Kebijakan perusahaan
1.      Kebutuhan bahan baku
Selama ini kebutuhan bahan baku handuk lumintu dijanti klaten memperoleh bahan baku dari berbagai suplayer, kebijakan pengadaan bahan baku dilakukan sesuai dengan permintaan pasar.
Tabel 1
Data Kebutuhan bahan baku tahun 2009
Sumber : Data kebutuhan bahan baku benang tahun 2009
pada Perusahaan Handuk Lumint
2.      Pembelian rata – rata bahan baku benang
Untuk menentukan jumlah pembelian bahan baku benang pada Perusahaan Handuk Lumintu dapat dihitung sebagai berikut :
Jadi rata – rata jumlah pembelian bahan baku setiap pemesanan = 556,25 kg
B.     Biaya pemesanan
Biaya yang terkait pemesanan di perusahaan Handuk Lumintu adalah :
a.       Biaya telepon
b.      Biaya administrasi
Tabel 2
Data pemesanan bahan baku tahun 2009
sumber : Data biaya pemesanan tahun 2009 Pada
Perusahaan Handuk Lumintu.
Untuk menghitung besarnya biaya pemesanan sekali pesan maka dapat dihitung dengan rumus :
Jadi besarnya biaya 1 kali pesan pada Perusahaan Handuk Lumintu adalah Rp 360.000,-
C.    Biaya penyimpanan
Biaya – biaya yang dikeluarkan karena perusahaan melakukan penyimpanan dan pengadaan persediaan bahan baku. Perincian biaya penyimpanan pada Perusahaan Handuk Lumintu Adalah : Biaya listrik, Biaya pemeliharaan gudang, dan Biaya tenaga kerja. Karena perusahaan tidak menanggung biaya lain – lain dalam penyimpanan bahan baku selain biaya tersebut.

Tabel 3
Data Penyimpanan bahan baku tahun 2009
Sumber : Data penyimpanan bahan baku tahun 2009
pada Perusahaan Handuk Lumintu
Besarnya biaya penyimpanan per unit dapat dihitung dengan rumus :
D.    Total biaya persediaan
Dapat dihitung :
a.       Total kebutuhan bahan baku (D) 6675 Kg
b.      Pembelian rata rata bahan baku (Q) 556,25 Kg
c.       Biaya pesan sekali pesan (S) Rp 360.000
d.      Biaya penyimpanan bahan baku per unit (H) Rp 5.583,52
Penghitungan total biaya persediaan :
Jadi total biaya persediaan yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah Rp 5.872.916,5
BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari analisis data dan pembahasan yang penulis uraikan pada bab 3 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Menurut kebijakan perusahaan pembelian rata – rata bahan baku benang adalah sebanyak 556,25 kg,
2.      Menurut kebijakan perusahaan Total biaya Persediaan adalah Rp 5.872.916,5.
3.      Frekuensi pemesanan perusahaan sebelumnya 12 kali pemesanan dalam setahun,
B.     Saran
Setelah penulis mengadakan perhitungan dan menganalisis masalah di Perusahaan Handuk Lumintu, maka penulis mengajukan saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam kebijakan pengadaan bahan baku, antara lain :
1.      Perusahaan Handuk Lumintu khususnya bagian gudang perlu mengadakan persediaan pengaman (safety stock) untuk mencegah kekurangan bahan baku pada saat proses produksi sedang berlangsung dan menentukan waktu dan jadwal yang tepat untuk melakukan pemesanan kembali bahan baku guna menjamin kelancaran proses produksi.
2.      Perusahaan hendaknya melakukan pemesanan kembali (re order point) untuk menghindari keterkambatan pemesanan bahan baku agar biaya penyimpanan digudang dapat optimal.
3.      Perusahaan harus mengadakan pelatihan terhadap karyawan tentang safety stock dan re order point, agar kedepannya karyawan dapat menerapkan (safety stock) dan juga (re order Point) diperusahaan.



DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, Agus 1990. Manajemen Produksi, Edisi A. Yogyakarta BPFE UGM.
Assauri, sofyan 1999. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi revisi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. Jakarta.
Assauri, Sofyan. 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Keempat. Jakarta: FE UI.
Desy, Fransisca 2007. Analisis Pengendalian Bahan Baku Kain Grey dengan metode EOQ pada CV. Harapan Jaya Klaten. Tugas Akhir. FEUNS : Surakarta.
Handoko, T.Hani. 2000. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: BPFE.
Hanggana, Sri. 2006. Prinsip Dasar Akuntansi Biaya. Surakarta: Mediatama.
Herjanto Eddy 1999. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi kedua. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Nasution, Arman Hakim. 2003. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Edisi Pertama. Surabaya: Guna Widya.
Render, Barry; Heizer, Jay. 2005. Manajemen Operasi. Edisi Ketujuh. Bandung: Salemba Empat.

Yamit, Zulian. 1998. Manajemen Persediaan. Edisi Pertama. FE UII. Yogyakarta.

HBZTO's Blog