MAN JADDA WAJADA , MAN SHABARA ZHAFIRA
Powered By Blogger

Sunday, 2 June 2019

PERANAN ORANG TUA DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN RELIGIUSITAS ANAK

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan agama merupakan pendidikan yang utama yang sangat dibutuhkan bagi anak, dimana hal tersebut secara langsung berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak. Pendidikan beragama pada anak merupakan awal pembentukan kepribadian, baik atau buruk kepribadian anak tergantung pada orang tua serta lingkungan yang mengasuhnya. Oleh karena itu sebagai orang tua mempunyai kewajiban memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anak. Mengingat pentingnya pendidikan agama, maka orang tua harus mempunyai pengetahuan yang cukup dalam menegakan pilar-pilar pendidikan agama dalam lingkungan anak entah itu dalam keluarga maupun bermasyarakat. Dalam prespektif pendidikan, terdapat tiga lembaga utama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang selanjutnya dikenal oleh Tripusat Pendidikan. Dalam GBHN (Tap. MPR No. IV/MPR/1978) ditegaskan bahwa "pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat".
Selain itu perkembangan teknologi yang sekarang ini merajalela membuat pengaruh besar pada masyarakat. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan di segala bidang, manfaatnya semakin dirasakan oleh semua kalangan. Revolusi informasi menyebabkan dunia terasa semakin kecil, semakin mengglobal dan sebaliknya privacy seakan tidak ada lagi. Berkat revolusi informasi. Kini orang telah terbiasa berbicara tentang globalisasi dunia dengan modernisasi sebagai ciri utamanya. Dengan teknologi informasi yang semakin cangih, hampir semua yang terjadi di pelosok dunia segera diketahui dan ketergantungan antar bangsa semakin besar.
Efek dari globalisasi itulah disamping mendatangkan kebahagiaan, juga menimbulkan masalah etis dan kebijakan baru bagi manusia. Efek samping itu ternyata berdampak sosiologis, psikologis dan bahkan teologis. Contoh dari efek globalisasi adalah banyak anak yang menyalah gunakan teknologi, penggunaan obat-obat terlarang karena pengaruh teman. Nilai-nilai kemasyarakatan yang selama ini dianggap dapat dijadikan sarana penentu dalam berbagai aktivitas, menjadi kehilangan fungsinya. Untuk menyikapi fenomena global seperti itu, maka penanaman nilai-nilai keagamaan dalam jiwa anak secara dini sangat dibutuhkan. Dalam hubungan itu, keluarga diharapkan sebagai lembaga sosial yang paling dasar untuk mewujudkan pembangunan kualitas manusia dalam lembaga ketahanan untuk mewujudkan masyarakat yang bermoral dan berakhlak. Pranata keluarga merupakan titik awal keberangkatan sekaligus sebagai modal awal perjalanan hidup mereka (Syahrin Harahap, 1999).
Dalam hal ini pendidikan agama merupakan pendidikan dasar yang harus diterapkan kepada anak sejak dini. Hal tersebut mengingat pribadi anak pada usia dini mudah dibentuk karena anak masih banyak berada di bawah pengaruh lingkungan keluarga. Mengingat arti strategis lembaga-lembaga tersebut, maka pendidikan agama yang merupakan pendidikan dasar itu harus dari rumah tangga atau orang tua. Inti pendidikan agama sesungguhnya adalah penanaman iman kedalam jiwa anak, dan untuk pelaksanaan hal itu secara maksimal hanya dapat dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga. Disinilah orang tua berperan dalam membimbing dan mengarahkan anak-anak mereka untuk lebih mendalami makna keimanan sesuai dengan agama yang dianutnya. Bagaimanapun sederhananya pendidikan agama yang diberikan dirumah, itu akan berguna bagi anak.
Dalam keluarga inilah, nilai budaya menuntun pasangan suami istri ke dalam kehidupan keluarga yang harmonis. Pada kehidupan keluarga, orang tua pada umunya mengharapkan supaya anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti luhur. Anak diharapkan tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk, yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain, seperti mabuk-mabukan, mencuri, berbuat asusila yang kesemuanya merupakan tindakan amoral dan melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat, hal ini yang tidak diinginkan orang tua terjadi pada anak- anak mereka. Maka dari itulah peran orang tua dalam satu keluarga yang merupakan lingkungan primer bagi setiap individu dan memiliki kedudukan sangat berpengaruh sebagai pelindung, pencakup kebutuhan ekonomi, dan pendidikan dalam kehidupan keluarga sekaligus membekali anak-anaknya mengenai keagamaan.
Pengaruh baik dan buruk tingkah laku dari lingkungan pergaulan sekitarnya tergantung dari daya serap dan penilaian pribadi anak mengenai bentuk tingkah laku yang dipandang kurang positif. Lebih jelasnya secara pribadi anak di lingkungan juga akan memilah apakah hal-hal yang kurang positif seperti yang dilakukan teman-temannya patut dicontoh atau tidak. Dan disinilah peran orang tua di butuhkan. Orang tua dapat memberikan pengertian terhadap anak agar dapat menjaga norma dan nilai-nilai yang berlaku dari pendidikan dasar keagamaan yang kuat akan sedikit mempengaruhi pola pikir anak dalam menilai tingkah laku di lingkungannya.
Selain itu budaya juga sangat berpengaruh, terlihat juga bahwa kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan system nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Kebudayaan yang muncul karena norma akan mengikat masyarakat untuk lebih taat terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan masyarakat sebagai adat istiadat. Hal ini berpengaruh juga pada lingkungan keluarga, untuk menerapkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat terhadap anak-anak mereka. Terutama norma agama, sehingga anak dapat menempatkan diri dimasyarakat, dengan penerapan yang diberikan orang tua maka anak akan mengerti hal-hal yang melanggar norma dan adat istiadat yang telah ditetapkan oleh masyarakat.
Sehingga dengan pembekalan norma-norma yang diberikan oleh orang tua maka anak akan bertindak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang tua mereka, jika orang tua mengajarkan hal yang tidak baik pada anak maka anak akan menirukan apa yang telah diajarkan oleh orang tua merka. Tetapi bila orang tua mengajarkan hal yang baik pada anak sesuai dengan norma yang berlaku maka anak akan bertingkah laku baik pula terhadap masyarakat.
B. Perumusan Masalah
Dalam penelitian kualitatif perumusan masalah lebih ditekankan untuk mengungkap aspek kualitatif dalam suatu masalah. Maka dari itu, dalam penelitian ini penulis akan mengemukakan perumusan masalah atau batasan masalah sebagai berikut :
"Bagaimanakah peran orang tua dalam mengembangkan religiusitas anak dalam kehidupan bermasyarakat. Di Desa Bangunsari, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur?"
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan diatas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Bagaimana pola perilaku orang tua dalam mendidik religiusitas anak?
2. Nilai-nilai apa yang didapat anak dari religiusitas tersebut?
3. Bagaimana tindakan anak dalam menerapkan religiusitas pada masyarakat?
II. 
TINJAUAN PUSTAKA
A. Batasan Konseptual
1. Peranan
Peranan lebih banyak menunjukan pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi tepatnya adalah bahwa seseorang (lembaga) menduduki suatu posisi atau tempat dalam masyarakat serta manjalankan suatu peranan. Suatu peranan mencakup tiga hal yaitu:
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti meliputi rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
b. Peranan dalam konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur masyarakat (Soerjono Soekanto, 2000 : 269).
Pembahasan peranan-peranan tertentu yang melekat pada lembaga dalam lembaga masyarakat penting bagi hal-hal sebagai berikut :
a. Bahwa peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsunganya.
b. Peranan tersebut seyogyanya diletakan pada individu-individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakannya. Mereka harus terlebih dahulu terlatih dan mempunyai pendorong untuk melaksanakannya.
c. Dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai individu yang tak mampu melaksanakan perananya sebagaimana diharapkan oleh masyarakat, oleh karena mungkin pelaksananya memerlukan pengorbanan yang terlalu banyak dari kepentingan pribadinya.
d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melaksanakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang. Bahkan seringkali terlihat betapa masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut (Soerjono Soekanto, 2000: 272).
2. Orang Tua
Orang tua disini lebih condong kepada sebuah keluarga, dimana kelurga adalah sebuah kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan dimana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan yang formal yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa (Ahmadi, 1999:239).
Sedangkan Khairuddin (1985) mendefinisikan keluarga sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi, merupakan susunan rumah tangga sendiri, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami-istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan perempuan dan merupakan pemelihara kebudayaan bersama (Khairuddin, 1985:14).
Menurut Khairuddin (1985) keluarga dibedakan menjadi dua yaitu keluarga inti dan keluarga luas. Keluarga inti didefinisikan sebagai kelompok yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum dewasa atau belum kawin. Sedangkan keluarga luas adalah keluarga yang meliputi lebih dari satu generasi dan suatu lingkungan kaum keluarga yang lebih luas daripada hanya ayah, ibu dan anak-anaknya (Khairuddin, 1985 : 29)
Dalam penelitaian ini lebih mengangakat pada fungsi keluarga sebagai fungsi religius yaitu keluarga berfungsi untuk mengantarkan anggotanya ke dalam kehidupan beragama, orang tua berkewajiban untuk memperkenalkanya, mengajak serta menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan rasa keagamaannya dalam kehidupan sehari-hari (Ibid, hal 127-128)
3. Religiusitas
Dari sifat religiusitas yang dimiliki oleh seseorang akan muncul dampak dilema dari religiusitas itu sendiri, di antaranya adalah:
1) Jika agama mau mempertahankan kemurnian aslinya (otentik) pendirinya sepanjang zaman dari masa ke masa dalam pagar-pagar kepranataan yang tak tertembus oleh pengaruh pemikiran baru maka karisma itu tak akan tersentuh dan tak akan berkembang. Akibatnya agama itu sendiri akan kehilangan daya tariknya.
2) Agama dihadapkan pula dengan pilihan yang sulit berkenaan dengan masalah kekuasaan dan kepemimpinan, di dalam agama terdapat unsur kekuasaan dan pimpinan pada tingkat universal dan tingkat sektoral kerohanian. (Hendro Puspito, 1983: 129)
Agama adalah persoalan individu dan merupakan kebebasan untuk memilih. Agama sebagai pengajaran adalah penting dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing-masing). Sebaiknya agama diberikan pada anak sejak usia masih dini. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka anak akan lebih bijak dalam menyikapi hidup dalam bermasyarakat.
Selanjutya nilai yang didapat anak dari religiusitas ini adalah anak lebih bisa memahami arti hidup setelah mereka menjalankan serangkaian makna religiusitas yang diberikan orang tua mereka. Selain itu anak lebih bisa mendekatkan diri pada Tuhan. sehingga secara langsung anak dapat menerapkan religiusitas itu didalam lingkungan masyarakat.
III. 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peranan orang tua dalam membentuk suatu karakter anak sangatlah penting sebab pertama kali anak menerima sosialisasi dari lembaga keluarga. Orang tua merupakan cerminan dari anak sehingga anak akan menjadi apa nantinya tergantung dari cara mendidik orang tua. Apalagi dalam membentuk karakter anak, terutama karakter dalam sikap religiusitas anak dalam bermasyarakat. Pendidikan beragama dirasa sangat penting sebab sebagai bekal seorang anak dalam kehidupan bermasyarakat kelak, dengan pendidikan agama yang diberikan orang tua maka anak akan lebih siap menghadapi kenyataan yang ada dimasyarakat, dimana anak dapat membedakan hal yang baik dan yang buruk dalam kehidupan masyarakat sehingga tidak terjerumus dalam hal-hal yang bersifat negatif.
Untuk mengetahui identitas peranan orang tua dalam mengembangkan sikap religiusitas anak dalam masyarakat, maka diperlukan gambaran yang bersifat ideal yang dimiliki individu sebagai orang yang menduduki suatu posisi sosial. Seorang individu memiliki sejumlah identitas peran yang berhubungan dengan berbagai posisi sosial yang mereka miliki dan berbeda-beda menurut tingkatan dalam perbandingannya satu sama lain.
Indentitas peran ini diungkapkan secara terbuka dalam melaksanakan peran dan membantu menentukan pentingnya suatu identitas peran tertentu dalam konsep diri seseorang secara keseluruhan (Doyke Paul Johnson, 1986 : 38)
Sebelum lebih jauh membahas tentang peranan orang tua dalam membentuk sikap religiositas anak dalam penelitian ini, maka diperlukan beberapa individu yang nantinya dijadikan sebagai sumber data, dimana dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah orang tua anak, dan yang menjadi responden adalah anak yang berusia antara 13-17 tahun yang bertempat tinggal di wilayah Desa Bangunsari.
A. 
KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. Bpk. Sunyoto
Bpk. Sunyoto adalah salah satu dari orang tua anak yang berada di wilayah desa Bangunsari. Usia dari bapak Sunyoto adalah 40 tahun. Bapak Sunyoto setiap hari bekerja sebagai pedagang dipasar dan mempunyai industri sambel pecel kecil-kecilan dirumah. Bapak Sunyoto mempunyai 2 orang anak. Beliau juga sebagai pengurus mushola dilingkungannya. Pendidikan terakhir dari bapak Sunyoto ini adalah STM.
2. Fajar SP
Fajar adalah anak dari bapak Sunyoto. Usia fajar adalah 16 tahun. Dia masih menempuh pendidikan tingkat SMA. Kegiatan sehari-hari Fajar hanya bersekolah dan membantu orang tuanya berdagang sambel dirumah. Fajar mempunyai adik yang masih duduk di bangku TK. Disamping itu Fajar juga aktif dalam kegiatan TPA dan remaja masjid yang terdapat dilingkungannya.
3. Bpk. Tego R
Bpk. Tego adalah salah satu warga desa Bagunsari, beliau juga berperan sebagai seksi keamanan dilingkungan RTnya. Usia dari bapak Tego adalah 43 tahun. Profesi dari bapak Tego sebagai TNI-AD. Ia bertugas di Koramil Mejayan. Beliau mempunyai 2 orang anak dan istrinya membuka toko kelontong dirumah. Pendidikan terakhir dari bapak Tego adalah SMA.
4. Wahyu FYP
Wahyu adalah putra dari bapak Tego. Kegiatan sehari-hari wahyu adalah seorang pelajar SMA yang saat ini duduk dikelas 2. kegiatan sehari-hari dari Wahyu adalah sebagai remaja masjid yang aktif dilingkungan Bangunsari.
5. Bpk. Sukidi
Bpk. Sukidi adalah seorang petani. Kegiatan sehari-harinya hanya dihabiskan di sawah. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai usaha brem kecil-kecilan dirumah. Bapak Sukidi mempunyai seorang putri yang masih duduk dibangku SMP. Usia dari bapak Sukidi adalah 40 tahun. Pendidikan terakhir dari bapak Sukidi adalah SD.
6. Zahrotun  M
Zahrotun adalah putri dari bapak Sukidi. Ia berusia 13 tahun. Dan ia masih menempuh pendidikan dibangku SMP. Kegiatan sehari-harinya hanya sebagai pelajar biasa dan dirumah ia membantu orang tuanya. Zahrotun merupakan anak tunggal dari bapak Sukidi.
7. Irawan TK
Irawan merupakan siswa kelas 2 SMP. Ia berusia 14 tahun. Orang tuannya bekerja sebagai petani. Kegiatan sehari-harinya hanya sebagai anak biasa dan tidak mempunyai kegiatan dilingkungan masyarakatnya. Ia mempunyai 2 orang kakak yang sudah bekerja.
8. Ghea E
Ghae adalah seorang anak yang berusia 14 tahun. Ia masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Setiap minggu ia sangat rajin mengikuti ibadah di gereja tempat tinggalnya. Orang tua dari Ghea adalah seorang pegawai swasta yang bergerak dibidang keuangan. Ghea merupakan anak ke dua di keluarganya. Ia hanya anak biasa seperti anak-anak yang lain.
9. Bpk. Kahudi
Bapak Kahudi adalah orang tua dari Ghea. Beliau merupakan karyawan swasta yang bergerak dibidang keuangan. Istrinya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya dirumah saja. Usia dari bapak Kahudi adalah 44 tahun. Dan pendidikan terakhir dari bapak Kahudi adalah S1.
10. Bpk. Agus
Bapak Agus adalah orang tua dari Clara. Usia bapak Agus saat ini adalah 42 tahun. Profesi dari bapak Agus adalah seorang guru SMA. Isrinya juga seorang guru. Bapak Agus juga berperan sebagai RT dirumahnya. Pendidikan terkahir bapak Agus adalah S1.
Selain dari 10 informan di atas, peneliti juga tidak menutup kemungkinan untuk mencari sumber data dari informan lain yang dianggap perlu dan tahu tentang data-data yang dibutuhkan untuk mendukung atau menguatkan sumber data yang telah diperoleh.
B. Pola Perilaku Orang Tua Dalam Mendidik Religiositas Anak
Peranan orang tua memang sangatlah penting dalam membentuk kepribadian seorang anak sebab sosialisasi dalam hidup bermasyarakat seorang anak itu berasal dari orang tua mereka masing-masing. Dari pola didik orang tua yang mereka terapkan maka seorang anak dapat merekam apa yang mereka terima dari orang tua mereka sehingga pola didik yang diberikan orang tua akan mereka terapkan dalam kehidupan masyarakat.
Salah satunya pola didik yang bersifat religiositas yaitu pola didik yang diberikan orang tua untuk bekal anak mereka dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Pendidikan agama dirasa sangatlah penting apalagi dalam kehidupan yang kritis seperti sekarang ini.
Setiap orang tua sangat menginginkan anaknya dapat hidup bermasyarakat dengan baik, banyak cara yang ditempuh orang tua dalam menanamkan sikap beragama sejak dini pada anaknya, salah satunya yang diungkapkan oleh bapak Sunyoto:
" perilaku beragama sangat penting sekali mbak bagi saya apalagi untuk anak saya, sejak dini saya selalu mengajarkan anak-anak saya perilaku beragama yang baik dengan tujuan supaya nantinya anak saya bisa mengerti dan bisa membedakan mana perbuatan yang boleh dilakukan dan yang dilarang serta tidak terjerumus ke hal yang bersifat negatif.
Setiap orang tua memang menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang baik dalam kehidupannya, agar menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tua. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh bapak Tego:
" saya tidak selalu mendoktrin anak saya untuk menjadi seperti yang saya inginkan, tetapi saya selalu menanamkan kesadaran diri terhadap anak saya mbak sehingga tanpa saya awasipun saya yakin anak saya dapat membedakan perbutan yang baik dan buruk, kasadaran itu mulai saya tanamkan sejak mereka masih kecil sehingga akan tumbuh rasa takut untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama"
Bapak Marlan yang berprofesi seorang petani juga mengatakan hal yang hampir serupa untuk menanamkan pola didik beragama sejak dini:
" sikap beragama itu memang sangat penting mbak dalam kehidupan masyarakat, apalagi kita yang hidup selalu berdampingan seperti ini, kita selalu membutuhkan orang lain, saya selalu mengajarkan anak saya agar anak-anak saya kelak dapat menjadi guru (panutan) dalam kehidupannya kelak".
Ada alasan lain yang diungkapkan oleh orang tua untuk menanamkan
pendidikan beragama sejak dini salah satunya yang diungkapkan oleh bapak Kahudi sebagai berikut:
" menurut saya ya mbak...sikap beragama yang saya tanamkan pada anak saya sejak dini hanya bertujuan agar anak saya berperilaku baik dalam masyarakat, entah itu dilingkungan rumah,sekolah ataupun hidup bertetangga, dan yang pasti agar anak saya dapat hidup dengan mandiri dengan landasan agama yang kuat, jadi saya tidak akan khawatir mbak kalau anak saya nantinya jauh daripengawasan orang-orang terdekatnya".
Adanya berbagai macam alasan yang timbul dari pemikiran para orang tua maka muncul pula cara mereka untuk menumbuhkan perilaku religiositas pada anak mereka masing-masing. Diantaranya cara yang dilakukan oleh bapak Agus yang berprofesi sebagai guru, beliau mengungkapkan hal sebagai berikut:
" cara saya dalam menumbuhkan perilaku religiositas pada anak saya, saya biasanya menyarankan dia untuk mengikuti organisasi-organisasi yang bersifat keagamaan, dengan seperti itu maka anak saya akan mengerti sendiri pentingnya menerapkan perilaku beragama dalam masyarakat". 
Hal berbeda diungkapakan oleh Toni. Toni adalah seorang pelajar kelas 2 SMA, yang ditinggal orang tuanya bekerja diluar negeri, ia mengungkapkan hal sebagai berikut:
"kalau saya mbak,,,orang tua saya tu jarang dirumah karena bekerja sebagai TKI di malaysia, paling-paling kita berhubungan lewat telepon, sebenarnya mereka juga sering memberikan nasehat bagi saya, tapi mereka apa tahu saya disini ngapain aja, kan mereka gak tahu mbak,,,,jadiya saya dengerin aja mereka ngomong, prakteknya nanti aja kalo mereka sudah pulang". 
Dari beberapa hasil wawancara yang sudah dilakukan dengan para informan, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak cara yang ditempuh para orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai generasi penerus yang berguna. Bebagai cara ditempuh para orang tua agar anak-anaknya tidak terjerumus ke hal-hal yang bersifat negatif dalam kehidupan bermasyrakat. Meskipun ada sebagian orang tua yang terlihat cuek dalam mendidik anaknya yang hanya mengontrol pergaulan anaknya melalui telepon, karena orang tuanya harus mencari nafkah ke luar negeri.
Adapun yang mendidik anaknya secara keras hal ini mungkin disebabkan karena pendidikan para orang tua mereka yang minim, sehingga mereka berfikir dengan mendidik keras anak akan menjadi lebih penurut. Tetapi tidak demikian anak menjadi lebih membangkang terbukti dari wawancara diatas, dengan pola didik orang tua yang keras anak-anak akan lebih membangkang dan mengabaikan nasehat orang tua mereka.
Berbagai alasan yang terungkap diatas ternyata dapat diambil kesimpulan jika pendidikan orang tua itu berpengaruh dalam membentuk pola tingkah laku dimasyarakat. Pengetahuan yang diperoleh orang tua dalam membentuk kepribadian anak sangat minim, bebeda dengan pendidikan orang tua yang tinggi, mereka lebih mengerti mendidik anak agar bisa diterima dan dijalankan dengan baik oleh anak-anak mereka.
C. PERANAN ORANG TUA DALAM MENERAPKAN RELIGIOSITAS PADA ANAK
Pengertian peranan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah memainkan ide, tugas, kewajiban dan peran (Reksosiswoyo, 1950 : 73). Wujud dari peranan itu adalah tugas-tugas yang dijalankan oleh seseorang berkaitan dengan posisi atau fungsinya dalam masyarakat. Salah satu peran adalah peranan orang tua dalam membentuk perilaku beragama pada anak guna menjadikan anak sebagai teladan yang baik dalam kehidupan masyarakat.
Keluarga mempunyai peranan yang besar dalam membentuk pribadi seorang anak, karena keluarga mempunyai fungsi salah satunya adalah fungsi sosialisasi dimana seorang anak akan menerima sosialisasi pertama kali dalam keluarga. Dalam keluarga ini yang berperan besar adalah orang tua yaitu ayah dan ibu.
Peranan yang dijalankan para orang tua memang cukup besar disamping memenuhi kebutuhan anak sehari-hari mereka juga dituntut untuk mendidik anak agar anak mereka tumbuh sesuai dengan harapan.
Peranan yang berat ini juga dirasakan oleh Bapak Tego dimana ia mendidik 2 anak, beliau mengungkapkan hal sebagai berikut:
"..anak merupakan titipan Tuhan mbak jadi harus kita jaga, didik, dan kita besarkan agar menjadi anak yang berguna nantinya.hal yang paling berat saya alami saat anak saya sudah terjun dimasyarakat, saya kuatir anak saya nantinya terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik... "
Disamping itu beratnya mendidik anak juga dirasakan oleh bapak Agus, beliau mengungkapkan hal sebagai berikut:
" saya mempunyai anak perempuan satu-satunya, jadi saya selalu mengawasi dia kemana pun dia akan pergi, saya takut mbak nanti anak saya kenapa-napa, sehingga kalau dikatakan protektif bisa juga habisnya gimana lagi jaman sekarangpergaulan bebas sudah merajalela... "
Dari ungkapan para orang tua ditas maka dapat disimpulakan betapa beratnya mereka mengasuh para anak-anak mereka. Yang menjadi kendala mengapa mereka memperketat pengawasan disebabkan jaman sekarang merupakan jaman eraglobalisasi yang dimana sumber informasi cepat masuk dan ditanggkap oleh masyarakat luas.
Sehingga banyak ke khawatiran yang ditimbulkan para orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Para orang tua tidak ingin para anak-anak mereka terjerumus dalam hal yang buruk dilingkungan masyarakat.
Karena setiap para orang tua banyak menerapkan strategi untuk mendidik anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Salah satunya yang diunggkapkan oleh bapak Samingan, beliau mengungkapkan hal sebagai berikut:
"....agar anak saya tidak terjerumus dalampergaulan bebas, sebisa mungkin saya masukan dia dalam sekolah agama, sebab saya tidak ingin anak saya nanti seperti orang tuanya, saya menginginkan anak saya agar menjadi anak yang berbaktipada orang tua dan bisa mengangkat derajat orang tuanya...."
Beratnya menjadi seorang orang tua juga dirasakan oleh bapak Kahudi, dalam hal mendidik anak beliau menerapakan strategi sebagai berikut:
" saya tipe orang tua yang tidak suka memaksakan kehendak, saya memberikan kebebasan pada anak saya, sebab saya tidak mau dikatakan orang tua yang otoriter tetapi kebebasan yang saya berikan terhadap anak tidak lepas dari pengawasan saya, saya selalu mengajak ngobrol anak saya setiap dia dari melakukan aktivitas diluar rumah, agar keterbukaan antara anak dan orang tua tetap terjalin dengan hal seperti itu saya berharap agar anak saya tidak terjerumus dalam hal-hal yang jelek..” 
Peranan yang dilaksanakan para orang tua memang cukup berat, untuk mendidik anak mereka agar tumbuh sesuai dengan harapan mereka. Sehingga banyak strategi yang diterapkan para orang tua dalam menentukan kelak anak mereka akan menjadi seperti apa, hal tersebut tidak lepas dari peranan orang tua tentunya.
Disisi lain anak juga merasakan betul peranan yang dijalankan para orang tua mereka, sehingga secara langsung anak akan memberikan respon yang positif terhadap orang tua jika para orang tua mereka memberikan nasehat. Disini dapat diambil kesimpulan bahwa peranan orang tua dalam mendidik anak memang sangat besar, anak merupakan titipan bagi para orang tua sehingga orang tua dituntut untuk selalu memberikan perhatian yang besar bagi para anak mereka. 
Banyak strategi yang diterapkan para orang tua ada yang bersifat otoriter dan ada pula yang biasa-biasa saja. Para orang tua kebanyakan mengikutsertakan anak mereka dalam kegiatan keagamaan serta kegiatan yang bersifat kemasyarakatan, diharapakan anak mereka nantinya dapat hidup bermasyrakat dengan baik serta berperilaku keagamaan.
Banyak kendala orang tua dalam mendidik anak mereka, salah satunya kendala mereka adalah jika nasehat mereka tidak didengarkan anak tetapi para orang tua itu menerimanya dengan iklas dan tetap menjalankan peranan mereka sebagai orang tua yang dituntut untuk selalu memberikan pendidik yang sebaik- baiknya terhadap anak.
D. Nilai-Nilai Yang Didapat Anak Dari Religiositas
Sistem yang ditanamkan orang tua terhadap anak untuk mendidik anak mereka dapat berperilaku baik dalam masyarakat sangat baragam. Banyak cara yang ditempuh para orang tua untuk mendidik anak mereka diantaranya orang tua lebih banyak mempercayakan pendidikan agama anak terhadap lembaga lain tanpa mengurangi peran orang tua dirumah dalam mendidik anak-anak mereka.
Ada orang tua yang menyarankan anak mereka untuk mengikuti kegiatan keagamaan diluar rumah misalnya saja mengikuti TPA, pengajian dan sekolah minggu. Tetapi disamping itu para orang tua juga banyak mengajarkan anak untuk saling bersosialisasi terhadap lingkungan dimana mereka tinggal, hal ini diharapkan untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar diantaranya yang dilakukan para orang tua adalah mengajak anak-anak mereka untuk melakukan gotong royong dilingkukngan sekitarnya, mengikuti kegiatan masayarakat di lingkungannya seprti karang taruna, hal ini diharapkan agar dalam diri anak tumbuh rasa peduli terhadap sesama.
Dari peranan orang tua dalam menumbuhkan religiositas terhadap anak agar berbuat baik dimasyarakat, maka tidak menutup kemungkinan ada kesan yang tersirat dalam diri anak sehingga anak dapat menangkap apa yang telah diajarkan para orang tua mereka untuk ditanamkan dan dilaksanakan serta diamalkan dalam kehidupan masyarakat dimanapun nantinya mereka akan tumbuh.
Banyak nilai yang diperoleh dari anak tentang religiusitas ini dari alasan yang mereka ungkapkan terlihat ternyata pola didik orang tua itu sangat berperan penting dalam diri anak. Sehingga anak dapat mengerti pola tinghkah laku yang harus mereka terapkan dalam kehidupan masyarakat kelak.
 Dari perilaku baik yang diterapkan anak dilingkungan mereka tinggal, banyak anak yang merasakan manfaat dari perilaku religiositas ini. Salah satunya yang diungkapkan oleh Syiva:
"...jika saya sering menanamkan kebaikan pasti saya akan diperlakukan baik dimanapun saya berada mbak.saya sering membantu tetangga saya jika mereka membutuhkan bantuan, sehingga respon yang saya peroleh dari tetangga saya ya cukup baik mbak.saya merasa masyarakat yang tinggal dilingkukangan saya sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, dan saya tidak akan memutusakan tali silaturahmi yang sudah saya tanamkan pada diri saya.. "
Selain Syiva ada alasan lain yang diungkapkan oleh Nia, ia juga merasakan betul manfaat menerapkan sikap beragama yang baik dilingkungannya, ia mengungkapkan hal sebagai berikut:
" saya jadi lebih tahu gimana kehidupan bermasyarakat dan beragama itu. sehingga saya menjadi lebih giat mengikuti kegiatan yang dilakukan dilingkungan sini dan saya menjadi grapyak(akrab) gitu sama masyarakat sini...
Selain nilai-nilai dan manfaat yang diperoleh dari sikap bereligiositas anak-anak dimasyarakat, mereka sangat merasakan benar apa makna dalam kehidupan ini. Sehingga anak-anak dapat membawakan diri dalam hidup mereka masing-masing dan mereka dapat memilah-milah perbuatan mana yang baik dan buruk.
Dalam hidup bermasyarakat tentu saja kita hidup berdampingan dengan penduduk lain, sehingga sikap yang kita perbuat dalam masyarakat ini tentu saja akan mendapat respon dari orang lain. Hal ini juga dirasakan oleh para anak-anak ini dalam menerapkan perilaku beragama dilingkungan masyarakat. Wujud perilaku yang baik selalu anak-anak ini tunjukan sehingga secara otomatis respon yang mereka peroleh juga baik. Salah satunya yang diungkapkan oleh Fajar, ia mengungkapakan hal sebagai berikut:
"....saya khan sebagai anggota karang taruna disini jadi jika ada tengga yang mempunyai hajat saya selalu membantu, jika ada orang yang meninggal juga demikian....sehingga masyarakat disini juga menganggap saya merupakan bagian dari mereka jadi saya merasa dihargai dan dihoramati gitu... "
Respon yang sama yang dirasakan oleh masyarakat juga dirasakan oleh Febri ia mengungkapakan hal sebagai berikut:
" para tetangga disini baik semua sama saya soalnya saya selalu menyapa para tetangga disini jika saya bertemu dengan mereka, setiap minggu saya selalu ikut serta dalam kerja bakti disini tanpa diminta bantuannya pun saya dengan senang hati melakukannya, mungkin untuk sementara yang bisa saya lakukan hanya sebatas itu saja... "
Setiap respon yang diungkapkan para informan hampir semuannya sama, sebab dalam hidup bermasyarakat sendiri sangat dibutuhkan sifat yang loyalitas dalam bergaul. Sehingga masyarakat pun dapat menerima dengan baik, hal ini menunjukan bahwa peran orang tua itu sangat penting dalam membentuk sifat dan karakter anak, karena apa yang diajarkan orang tua secara otomatis mereka dapat mencernanya dan menerapkan dalam lingkungannya.
Secara definitif Weber merumuskan Sosiologi sebagai suatu ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal.
Peranan orang tua dalam menerapkan religiositas terhadap anak merupakan inti dari penelitian ini, dimana dalam penelitian ini akan dianalisa dengan mengunakan teori simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Mead.
Dalam teori simbolik terdapat teoritisi interaksionisme simbolik yang cenderung menyetujui pentingnya sebab musabab interaksi sosial. Dengan demikian, makna bukan berasal dari proses mental yang menyendiri, tetapi berasal dari interaksi. Tindakan dan interaksi manusia, bukan pada proses mental yang terisolasi, bukan bagaimana cara mental manusia menciptakan arti dan simbol, tetapi bagaimana cara mereka mempelajarinya selama interaksi pada umumnya dan selama proses sosialisasi pada khususnya.
Dengan begitu peranan orang tua dalam menerapkan sikap religiositas terhadap anak ini merupakan proses dari perubahan jaman, sehingga para orang tua dituntut untuk dapat belajar dan bersoisalisasi dengan dunia luar agar para orang tua mengetahui bagaimana mendidik anak-anak meraka pada jaman sekarang.
Sehingga cara didik yang dipakai orang tua dapat dengan mudah dan bisa diterima para anak-anak mereka. Menurut teori simbolik interaksi terjadi karena proses, dalam hal ini seorang anak dapat menerima sikap didik orang tua tentang sifat beragama dalam masyarkat jika terjadi proses sosialisasi dirumah dan penerapannya dimasyarakat.
Peranan keluarga salah satunya adalah memberikan sosialisasi terhadap anak dalam hal ini sosialisasi yang diajarkan para orang tua adalah proses perilaku beragama yang diajarkan orang tua terhadap anak, sosialisasi yang diterapkan
orang tua dalam penelitian ini adalah strategi orang tua yang digunakan untuk mendidik para anaknya dalam menerapkan sikap beragama dimasyarakat.
Indikator dari peranan itu sendiri adalah peranan menunjukan pada fungsi penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi lebih tepatnya seseorang atau kelompok menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup 3 hal yaitu:
1. Peranan meliputi norma yang dihubungakn dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini meliputi serangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyrakat.
2. Peranan adalah konsep perihal apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi sruktur sosial masyarakat. (Soerjono Soekamto, 1990 : 269)
Dari sini aplikasi dari konsep di atas adalah bahwa keluarga merupakan suatu lembaga yang terdiri dari individu dimana dalam konteks ini adalah ibu, bapak dan anak dan memiliki suatu status sebagai lembaga keluarga yang mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Keluarga berfungsi untuk mengatur penyaluran dorongan seks, tidak ada masyarakat yang memperbolehkan seks sebebas-bebasnya antara siapa saja dalam masyarakat.
2. Reproduksi berupa pengembangan keturunan pun selalu dibatasi dengan aturan yang menempatkan kegiatan ini dalam keluarga.
3. Keluarga berfungsi untuk mensosialisasikan anggota baru masyarakat sehingga dapat memerankan apa yang diharapkan darinya.
4. Keluarga mempunyai fungsi afeksi: keluarga memberikan cinta kasih pada seorang anak.
5. Keluarga memberikan status pada anak bukan hanya status yang diperoleh seperti status yang terkait dengan jenis kelamin, urutan kelahiran dan hubungan kekerabatan tetapi juga termasuk didalamnya status yang diperoleh orang tua yaitu status dalam kelas sosial tertentu.
6. Keluarga memberikan perlindungan kepada anggotanya, baik perlindungan fisik maupun perlindungan bersifat kejiwaan (Kamanto Sunarto, 2004 : 63-64).
Peranan juga berkaitan erat dengan harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran juga harapan-harapan yang dimiliki oleh si pemegang peran terhadap masyarakat atau orang-orang yang berhubungan denganya dalam menjalankan perannya atau kewajiban-kewajibanya. Sehingga peranan orang tua dalam menerapkan religiositas pada anak dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan status yang dimiliki oleh individu masing-masing.
Dalam kehidupan keluarga setiap individu dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya dalam masyarakat. Peranan orang tua dalam menerapkan religiositas ini diharapakan kelak anak-anak mereka dapat menjalankan perannya dalam masyarakat sesuai dengan adat dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Melalui peranan orang tua ini diharapkan dapat membentuk sifat anak yang baik serta berjiwa agama yang kuat, sehingga anak dapat membedakan perbuatan yang baik sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarkat sehingga anak dapat terhindar dari sifat yang dapat melanggar norma.
 Banyak strategi yang diterapkan para orang tua untuk membentuk karakter anak salah satunya mengikutsertakan anak mereka dalam kegiatan yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan. Hal ini dilakukan orang tua agar anak mereka dapat memiliki jiwa keagamaan yang kuat untuk dijadikan bekal hidup bermasyarakat kelak.
Melalui proses sosialisasi dari keluarga inilah diharapkan seorang anak dapat menjalankan perannya sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat dengan berpedoman sikap beragama yang baik dimanapun anak terebut berada.
Disamping itu banyak pula kendala para orang tua dalam menerapkan religiositas ini menemui kendala salah satu kendala yang dihadapi orang tua jika ada orang tua yang harus bekerja diluar kota pengawasan dan pendidikan yang diterima anak akan berkurang sehingga anak tidak efektif dalam menerima pendidikan religiositas dari orang tua.
Selain itu pola perilaku anak yang seenaknya sendiri yang cenderung tidak mau mendengarkan nasehat para orang tua, kendala itulah yang menyebabkan sosialisasi dari religiositas yang disampaikan para orang tua tidak dapat efektif diterima anak.
Ternyata tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi para orang tua ini juga dapat mempengaruhi pola didik anak. Para orang tua yang mengenyam pendidikan rendah misalnya cenderung lebih cuek dibanding dengan pendidikan orang tua yang tinggi. Hal ini disebabkan pendidik orang tua yang rendah cenderung mempercayakan pendidikan anak mereka pada lembaga lain.
Berbeda dengan orang tua yang berpendidikan tinggi disamping mereka mempercayakan pendidikan anak terhadapa lembaga lain, mereka secara langsung juga mengawasi anak dan mendidik anak dirumah. Perbedaan lain orang tua yang cenderung berpendidikan rendah diikuti dengan pendapatan yang kecil otomatis menuntut mereka konsentrasi mencari uang saja sehingga terhadap pendidikan anak cenderung menyerahkan pada lembaga lain.
Dengan demikian berdasarkan teori simbolik maka anak dapat mengamalkan religiositas dari sosialisasi yang diberikan para orang tua dan anak dapat menerimanya dengan baik dan dilakukannya dalam perilaku sehari-hari mereka. Apa yang diberikan orang tua maka perilaku anak dapat tercermin dalam masyarakat jika perilaku religiositas anak baik dimasyrakat berarti baik pula pola didik para orang tua.
IV. 
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas dan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
Peranan orang tua merupakan bagian terpenting pada kehidupan anak dalam keluarga, yang dimana pada jaman sekarang ini banyak perubahan- perubahan ynag diterima dalam kehidupan masyarakat. Era globalisasi yang terjadi dalam masyarakat menyebabkan privasi seseorang itu tidak lagi menjadi sebuah privasi individu tetapi sudah biasa menjadi konsumsi publik.
Dalam peranan orang tua ini, orang tua dituntut untuk selalu mengawasi anak mereka agar tidak terjerumus dalam kehidupan yang serba bebas. Pendidikan dalam keluarga dirasa sangat penting dalam membentuk sebuah karakter anak. Anak dapat berkembang dengan baik jika orang tua berperan langsung dalam mendidik anak disamping pendidikan diluar kelurga misalnya lembaga pendidik berupa sekolah.
Orang tua merupakan sebuah contoh atau cerminan bagi anak, jika orang tua mengajarkan hal yang baik maka anak akan menirunya. Apalagi peranan orang tua itu dibutuhkan dalam membentuk karakter anak yang akan dijadikan bekal bagi anak untuk hidup bermasyarakat kelak.
Banyak cara yang ditempuh orang tua dalam membentuk karakter anak. Banyak orang tua memasukan anak mereka pada lembaga-lemabaga lain misalnya lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan, hal ini dilakukan orang tua agar
Anak mereka nantinya lebih mengerti betapa pentingnya agama itu dalam kehidupan mereka. Disamping itu para orang tua juga mengikut sertakan anak mereka untuk berperan langsung dalam masyarakat misalnya saja menyarankan agar anak mereka ikut dalam kegiatan karang taruna atau gotong royong dalam masyarakat.
Sehingga apa yang ditanamkan orang tua akan membentuk anak lebih santun dan dapat membwakan diri dalam masyarakat. Sikap religiusitas yang ditunjukan anak dalam masyarakat dapat terlaksana sesuai dengan harapan para orang tua, karena sebagian para orang tua ini mengaharapakan agar anak dapat berguna dimasyarakat kelak.
Jika tidak ditanamkan sejak dini, para orang tua akan khawatir kelak anak mereka tidak berguna dalam masyarakat, karena tidak ada orang tua yang mengharapkan anak mereka nantinya hanya menjadi cemooh warga masyarakat belaka.
Cara-cara yang digunakan dalam mendidik anakpun sangat mendapat respon yang cukup bagus. Para orang tua di Desa Bangunsari dapat mendidik religiusitas anak dengan cara masa kini sehingga anak-anak dapat menerimanya dengan tulus dan tidak menganggap para orang tua mereka kuno atau ketinggalan jaman.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti dapat memberikan beberapa saran yang diharapkan nantinya akan dapat bermanfaat. Saran tersebut adalah:
1. UNTUK ORANG TUA
a. Di dalam mendidik anak sebaiknya orang tua tidak terlalu keras dalam mendidik anak karena kekerasan akan menimbulkan anak menjadi berontak.
b. Dan untuk orang tua yang terlalu posesif terhadap anak, sebaikanya sedikit demi sedikit bisa dikurangi agar anak tidak menjadi tertekan dan menjadi pemberontak.
c. Untuk para orang tua yang sebaiknya mendampingi anak dalam kegiatan- kegitan anak sehari-sehari agar dapat terkontrol dengan baik.
d. Sebaiknya apa yang diajarkan orang tua tentang religiositas sebaiknya dengan cara yang dapat diterima dengan mudah oleh anak.
2. UNTUK ANAK
a. Sebaiknya jika orang tua memberikan nasehat anak dapt menerima dan menerapkannya dengan baik.
b. Jika orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap anak dilakukan secara jarak jauh sebaiknya anak juga dapat menerimanya dengan baik meskipun jauh dari pengawasan orang tua.
c. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan, maka dari itu peneliti menyarankan kepada masyarakat untuk mengadakan penelitian lain yang berhubungan dengan peranan orang tua terhadap anak dalam menerapkan religiositas terhadap anak. Sehingga apa yang diharapkan dari diadakannya penelitian akan tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 1999, Psikologi Sosial, Rineka Cipta, Jakarta.
George Ritzer & Douglas. J. Goodman, 2007, Teori Sosiologi Modern., edisi ke-6, Jakarta, Kencana, 2007.
Harahap. H. Syahrin, 1999, Islam : Konsep & Imlementasi Pemberdayaan (cetakanpertama), Yogyakarta : Tiara Wacana Yogyakarta.
Hendro Puspito, 1989, Sosiologi Sistematik, Yogyakarta, Kanisius.
Hurlock, Elizabeth, 1999, Perkembangan Anak, Elangga, Jakarta.
Husein. Fatimah, Resonansi Dialog Agama dan Budaya Center For Religious & Cross, Cultural Studies (CRCS). Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2008.
Jallaluddin, Dr, 2000, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Kartono, Kartini, CV. Mandar Maju, Bandung, Psikologi Anak ( Psikologi Perkembangan), 1995.
Khairudin, 1985, Sosiologi Keluarga, Nurcahya, Jogjakarta.
Langgulung, Hasan, 1995, Manusia & Pendidikan : Suatu Analisa Psikologi & Pendidikan (catatan ketiga), Jakarta, 1995.
Mahmud, Dimyati, 1990, Psikologi Suatu Pengantar, BPFE, Jogjakarta.
Nasution, Harun, 1995, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, Mizan, Jakarta.
Paul Johnson, Doyle, 1986, Teori Sosiologi Klasik & Modern, PT. Gramedia, Jakarta.
Phil, Astrid, S.Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Putra Abardin, Jakarta, 1999.
Puspito Hendro, Sosiologi Agama, Kanisius, Yogyakarta, 1984.
Ritzer George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo, Jakarta, 2002.
Sunarto, Kamanto, 2004, Pengantar Sosiologi (edisi kedua), Mizan, Jakarta.
Sutopo, HB, Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002

No comments:

Post a Comment

HBZTO's Blog